Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

431 Santri Keracunan Usai Konsumsi MBG, SPPG Tanggulangin Sementara Dihentikan

Sebanyak 431 santri Ponpes Manbaul Hikam diduga keracunan setelah makan MBG dari SPPG Kalitengah, yang kini dihentikan sementara operasionalnya.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 07.44 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
431 Santri Keracunan Usai Konsumsi MBG, SPPG Tanggulangin Sementara Dihentikan
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Sebanyak 431 santri dari Ponpes Manbaul Hikam, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa (1/9). Kondisi mereka kini ditangani di delapan rumah sakit rujukan setempat. Salah satu santriwati, SZ (15), mengungkapkan menu siang itu terdiri dari nasi putih, orak arik telur, tempe bumbu bali, sayur tumis buncis baby corn, dan buah apel. Ia menyebut sayuran yang disajikan terasa asam dan tidak habis dimakan, lalu mulai merasa mual, lemas, dan pusing menjelang sore hari.

Pengasuh ponpes, Abdul Wahid Harun, menyatakan total santri di lokasi mencapai sekitar 1.000 orang, dengan 431 di antaranya dirawat akibat keracunan. Ia menegaskan bahwa makanan yang dikonsumsi berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, bukan hasil olahan ponpes. Menurutnya, kejadian ini tidak direncanakan dan merupakan musibah yang harus dihadapi dengan sikap positif. Ia juga membantah informasi bahwa aparat keamanan mengamankan area pesantren, menekankan bahwa petugas justru turut membantu penanganan.

Wakil Gubernur Jawa Timur dan Ketua Satgas MBG, Emil Elestianto Dardak, memastikan tidak ada korban jiwa dalam insiden ini. Ia menyampaikan bahwa keluhan serupa juga dilaporkan oleh siswa dari 18 lembaga pendidikan lainnya, termasuk sekolah menengah, dasar, hingga taman kanak-kanak, yang semua menerima makanan dari SPPG Kalitengah. Semua instansi terdampak berlokasi di Kecamatan Tanggulangin, menunjukkan adanya keterkaitan langsung dengan satu sumber pangan.

Meski SPPG Kalitengah telah memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dan memenuhi standar sarana, tenaga, dan sertifikasi halal, Emil menekankan bahwa sertifikasi tidak menjamin bebas risiko. Kemungkinan penyimpangan tetap dapat terjadi, terutama terkait kualitas bahan baku atau pelanggaran SOP dalam proses pengolahan. Evaluasi dan uji laboratorium terhadap sampel makanan sedang berlangsung, dengan hasil diperkirakan muncul dalam waktu sepekan.

Dalam respons cepat, Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Jawa Timur langsung menghentikan sementara operasional SPPG Kalitengah setelah insiden. Dapur tersebut menyediakan sekitar 2.800 porsi harian untuk berbagai sekolah dan pesantren, termasuk sekitar 1.000 porsi untuk Ponpes Manbaul Hikam. Sampel makanan telah dikumpulkan oleh Dinas Kesehatan dan kepolisian untuk uji laboratorium. Keputusan akhir mengenai masa depan operasional SPPG akan ditentukan setelah hasil evaluasi dan analisis lab dirilis.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya