7 Makanan Alami Bantu Atasi Lendir di Tenggorokan Akibat Abu Vulkanik
Konsumsi makanan tertentu seperti jahe, cabai rawit, dan nanas dapat membantu mengencerkan dan menghilangkan lendir berlebih akibat paparan abu vulkanik.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 9 September 2026, 11.44 WITA·👁 7 orang membaca· 0 hari ini · 27x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Paparan abu vulkanik yang terus-menerus dapat memicu gangguan pada sistem pernapasan, termasuk penumpukan lendir di tenggorokan. Kondisi ini memicu gejala seperti batuk persisten, rasa berat di dada, sesak napas, dan iritasi pada saluran pernapasan atas. Kementerian Kesehatan telah mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap dampak kesehatan jangka panjang dari debu vulkanik, terutama bagi individu dengan riwayat penyakit paru seperti asma, PPOK, dan bronkitis kronis.
Untuk mengurangi penumpukan lendir, disarankan memperbanyak konsumsi makanan alami yang memiliki sifat mukolitik dan antiinflamasi. Jahe, misalnya, dikenal karena sifat antivirus dan antibakterinya yang membantu meredakan penyumbatan dan mendorong keluarnya lendir dari saluran pernapasan. Sementara itu, capsaicin dalam cabai rawit berfungsi mengencerkan lendir, mempermudah pengeluarannya dari tenggorokan.
Bawang putih juga menjadi pilihan efektif berkat kemampuannya menekan pertumbuhan mikroorganisme penyebab infeksi. Dengan mengonsumsi bawang putih secara rutin, tubuh dapat meningkatkan daya tahan terhadap agen patogen yang memperparah produksi lendir. Selain itu, nanas mengandung enzim bromelain yang memiliki sifat mukolitik alami, membantu memecah lendir dan mengurangi peradangan pada saluran napas.
Salmon kaya akan asam lemak omega-3 yang berperan sebagai antiinflamasi alami, membantu menenangkan iritasi pada jaringan paru. Kapulaga dan bawang bombay juga terbukti efektif dalam mengurangi batuk dan membantu membersihkan saluran pernapasan. Bawang bombay dapat dikonsumsi dengan cara merendam parutannya dalam air selama 6–8 jam, lalu diminum 3–4 sendok makan per hari untuk hasil optimal.
Pendekatan pencegahan dan pengelolaan gejala dengan makanan alami menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan pernapasan saat terpapar abu vulkanik. Dengan memperhatikan asupan harian, masyarakat dapat mengurangi risiko komplikasi pernapasan dan mempercepat pemulihan kondisi tubuh.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

14 Siswi SMP Tangsel Diduga Dicoklati Minuman Berbahaya
Polisi bergerak cepat menangani dugaan perundungan dan pemerasan terhadap 14 siswi SMP Negeri 10 Tangsel, termasuk kasus paksa minum racikan yang menyebabkan tiga korban dirawat.
24 Oktober 2026

Festival Jajanan Bango 2026 Dorong Pertumbuhan UMKM Kuliner
Festival Jajanan Bango 2026 digelar di Hutan Kota GBK Jakarta, menampilkan lebih dari 50 pelaku UMKM kuliner untuk memperluas akses pasar dan memperkuat ekosistem kreatif generasi muda.
24 Oktober 2026

Nex Carlos Jajal Inovasi Kuliner Lokal di FJB 2026
Kreator makanan Nex Carlos menikmati beragam sajian unik dari Festival Jajanan Bango 2026, menyoroti keberhasilan paduan rasa lokal dan global dalam kreasi kuliner modern.
24 Oktober 2026

Ekspor Kecap Indonesia Tembus 18,81 Juta Dolar AS hingga Agustus
Nilai ekspor kecap asal Indonesia mencapai 18,81 juta dolar AS pada periode Januari hingga Agustus 2026, menunjukkan pertumbuhan signifikan di pasar global.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

Harga Emas Antam Turun Rp10 Ribu per Gram Hari Ini
Sabtu, 24 Oktober 2026, 21.26 WITA

Investor Desak MSCI Jelaskan Alasan Penurunan Status Pasar Indonesia
Sabtu, 24 Oktober 2026, 21.26 WITA

Pemerintah dan Pertamina Percepat Siap Operasional Kilang RDMP Balikpapan
Sabtu, 24 Oktober 2026, 21.25 WITA

Suahasil Lantik Pejabat Baru, Sekjen Kemenkeu Diganti
Sabtu, 24 Oktober 2026, 21.25 WITA

Bahlil Dorong E50 untuk Kurangi Impor BBM
Sabtu, 24 Oktober 2026, 21.25 WITA

Pelantikan Pejabat Pimpinan Tinggi Madya di Kemenkeu
Sabtu, 24 Oktober 2026, 21.25 WITA

Ibu 55 Tahun Ajak Anak Cari Kerja di Job Fair Jakarta
Sabtu, 24 Oktober 2026, 21.25 WITA

Pemerintah Perkuat Rantai Pasok Pangan Hadapi Tantangan Iklim
Sabtu, 24 Oktober 2026, 21.24 WITA

