Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Minuman Bantu Legakan Tenggorokan Usai Terpapar Abu Vulkanik

Konsumsi air putih, air hangat, dan minuman alami seperti jahe madu dapat meredakan iritasi tenggorokan akibat paparan abu vulkanik, meski tak mampu membersihkan partikel dari paru-paru.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 8 September 2026, 11.40 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Minuman Bantu Legakan Tenggorokan Usai Terpapar Abu Vulkanik
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Paparan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian publik menyusul dampaknya terhadap kesehatan pernapasan. Partikel halus yang terbawa angin dapat menyebabkan gejala seperti batuk kering, tenggorokan terasa mengganjal, hidung tersumbat, serta peningkatan produksi lendir. Banyak masyarakat mencari solusi cepat, termasuk melalui konsumsi minuman tertentu, dengan harapan dapat menghilangkan residu abu dari paru-paru. Namun, para ahli menegaskan bahwa tidak ada minuman yang dapat mengangkat atau menetralisir partikel abu vulkanik dari organ pernapasan.

Paru-paru memiliki mekanisme pembersihan alami, namun paparan berkepanjangan terhadap debu vulkanik dalam jumlah tinggi tetap berpotensi menimbulkan iritasi dan peradangan kronis. Oleh karena itu, fokus utama bukan pada pengobatan dengan minuman, melainkan pencegahan paparan. Minuman seperti air putih dan air hangat tetap direkomendasikan karena berperan penting dalam menjaga hidrasi tubuh. Cairan yang cukup membantu menipiskan lendir sehingga lebih mudah dikeluarkan melalui batuk, mengurangi rasa tidak nyaman di saluran pernapasan.

Selain air, beberapa minuman alami juga diklaim membantu meredakan gejala. Teh jahe madu, misalnya, dapat memberikan sensasi lega pada tenggorokan yang teriritasi. Jahe memiliki sifat antiinflamasi ringan, sementara madu dikenal mampu mengurangi frekuensi batuk pada sebagian orang. Teh lemon hangat juga menjadi pilihan karena mengandung vitamin C yang mendukung sistem imun. Sementara itu, teh hijau, meski kaya antioksidan, belum memiliki bukti ilmiah yang mendukung efektivitasnya dalam membersihkan paru-paru dari partikel abu vulkanik.

Penting untuk dipahami bahwa minuman hanya berfungsi sebagai pendukung meredakan gejala, bukan sebagai pengganti langkah proteksi fisik. Masyarakat yang berada di wilayah terdampak sebaiknya membatasi aktivitas di luar ruangan, menutup jendela dan pintu, serta menggunakan masker khusus yang mampu menyaring partikel halus. Hindari menggerakkan debu dengan cara yang memperbesar paparan, seperti mengibaskan kain atau menyebar debu secara kasar. Jika gejala berlanjut atau memburuk, sebaiknya segera mencari bantuan medis.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya