Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

B50 Dorong Pengurangan Impor dan Raih Devisa Rp170 Triliun

Implementasi biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026 diproyeksikan kurangi impor solar 310 ribu barel per hari dan tingkatkan devisa hingga Rp170 triliun pada 2026.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 8 September 2026, 22.29 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
B50 Dorong Pengurangan Impor dan Raih Devisa Rp170 Triliun
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Penerapan biodiesel B50 di tahun 2026 diharapkan menjadi langkah strategis dalam menekan ketergantungan terhadap impor solar. Berdasarkan perhitungan resmi, penggunaan biodiesel sekitar 18 juta kiloliter setara dengan pengurangan impor sebanyak 310 ribu barel per hari. Angka ini setara dengan hampir setengah dari target lifting minyak nasional yang ditetapkan sebesar 610 ribu barel per hari, menunjukkan potensi besar dalam penghematan devisa.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi menegaskan bahwa pemanfaatan bahan bakar nabati berbasis sumber daya lokal menjadi kunci memperkuat ketahanan energi nasional. Dengan meningkatnya kontribusi biodiesel dalam campuran solar, kebutuhan impor bahan bakar fosil diperkirakan menurun signifikan. Hal ini tidak hanya menstabilkan harga energi dalam negeri, tetapi juga mengurangi risiko terganggunya pasokan akibat ketegangan geopolitik global.

Dalam perhitungan yang disampaikan dalam rapat dengan Komisi XII DPR RI, pengurangan impor solar tersebut diperkirakan mampu meningkatkan devisa negara hingga Rp170 triliun pada akhir 2026. Angka ini menjadi indikator nyata dari efektivitas kebijakan energi berkelanjutan yang berbasis pada sumber daya domestik. Dengan begitu, Indonesia tidak hanya mengurangi defisit neraca perdagangan energi, tetapi juga memperkuat kemandirian energi jangka panjang.

Sejak peluncuran B50 pada 1 Juli 2026, penyaluran kumulatif telah mencapai 10,69 juta kiloliter. Rinciannya, sekitar 7,273 juta kiloliter merupakan distribusi B40 sejak Januari, sementara B50 telah didistribusikan sebanyak 3,4 juta kiloliter. Dari sisi jaringan, sekitar 6.050 SPBU telah mulai menyalurkan B50, sementara 362 SPBU lainnya masih dalam masa transisi dari B40 ke B50. Di tingkat titik serah, 76 dari 104 titik telah beroperasi dengan B50, sisanya masih dalam proses penyesuaian.

Untuk menjamin kelancaran transisi, pemerintah memberikan kelonggaran waktu hingga 30 September 2026 agar stok B40 dapat habis terlebih dahulu. Langkah ini diambil sebagai bentuk kebijakan yang fleksibel dan memperhatikan kesiapan infrastruktur serta mitra distribusi. Dengan pendekatan bertahap dan dukungan logistik yang terkoordinasi, implementasi B50 diharapkan berjalan lancar tanpa mengganggu pasokan energi nasional.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya