Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Anak Rentan Iritasi Paru Akibat Abu Vulkanik

Dokter spesialis anak menekankan pentingnya deteksi dini gejala iritasi pernapasan pada anak akibat paparan abu vulkanik, terutama pada yang memiliki riwayat asma atau alergi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 9 September 2026, 11.47 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Anak Rentan Iritasi Paru Akibat Abu Vulkanik
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Paparan abu vulkanik yang muncul akibat erupsi gunung berapi tidak hanya mengganggu kualitas udara, tetapi juga membawa risiko serius bagi kesehatan pernapasan anak-anak. Partikel halus yang terkandung dalam abu—termasuk pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik—dapat dengan mudah masuk ke saluran pernapasan saat dihirup. Kondisi ini berpotensi memicu iritasi akut, terutama pada kelompok rentan seperti anak dengan gangguan pernapasan kronis.

Gejala awal yang sering muncul meliputi batuk persisten, bersin, hidung meler, hingga sesak napas ringan. Pada anak dengan riwayat asma atau alergi saluran napas, paparan abu dapat memicu eksaserbasi atau serangan akut yang berpotensi mengancam jiwa. Dokter spesialis anak menekankan bahwa gejala tersebut bukan sekadar gangguan ringan, melainkan tanda bahaya yang perlu segera ditangani.

Orang tua diminta waspada terhadap tanda-tanda pernapasan yang mengkhawatirkan, seperti napas yang terlalu cepat, tarikan dinding dada saat menarik napas, atau saturasi oksigen di bawah 94 persen. Dalam kondisi seperti ini, segera bawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat tanpa menunda. Deteksi dini dan penanganan tepat menjadi kunci untuk mencegah komplikasi serius.

Untuk meminimalkan paparan, anak disarankan tetap berada di dalam ruangan yang tertutup rapat. Penggunaan AC sebaiknya dalam mode recirculation agar tidak menghisap udara luar yang tercemar. Hindari penggunaan kipas angin yang justru dapat mengangkat partikel abu yang sudah menempel di permukaan. Saat membersihkan, gunakan kain basah bukan sapu kering agar abu tidak beterbangan kembali.

Selain perlindungan fisik, pastikan anak tetap terhidrasi dan mendapatkan nutrisi cukup. Obat rutin dan obat darurat bagi penderita asma atau alergi harus selalu tersedia. Hindari juga paparan asap rokok dan asap dapur yang dapat memperparah iritasi saluran napas. Upaya pencegahan dan kesadaran orang tua menjadi fondasi utama dalam melindungi kesehatan anak selama masa erupsi.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya