Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pabrik BYD Subang Beroperasi, Harga Mobil Listrik Tak Turun Langsung

Operasional pabrik BYD di Subang tak otomatis menurunkan harga kendaraan listrik karena struktur fiskal tetap stabil selama transisi produksi lokal.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 9 September 2026, 11.37 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Pabrik BYD Subang Beroperasi, Harga Mobil Listrik Tak Turun Langsung
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pabrik mobil listrik BYD di Subang, Jawa Barat, resmi beroperasi setelah menyelesaikan proses pembangunan dan penyiapan fasilitas produksi. Fasilitas seluas 126 hektare ini menandai langkah strategis perusahaan dalam mengalihkan produksi dari impor penuh ke manufaktur lokal, sekaligus menjadi bagian dari komitmen perusahaan membangun basis produksi di dalam negeri. Investasi yang dikeluarkan mencapai sekitar Rp16 triliun, dengan kapasitas produksi maksimal mencapai 150.000 unit per tahun, atau sekitar 12.500 unit bulanan jika beroperasi penuh.

Meski telah beroperasi, tidak ada kebijakan penurunan harga langsung untuk kendaraan listrik BYD. Hal ini disebabkan oleh kebijakan fiskal yang dirancang pemerintah untuk menjaga keseimbangan selama masa transisi dari impor ke produksi dalam negeri. Menurut Luther Panjaitan, perwakilan publik dan pemerintahan BYD Motor Indonesia, insentif yang diberikan selama periode impor tetap berlaku secara kompensasi, sehingga struktur biaya dan bea masuk tetap konsisten antara mobil impor dan lokal.

Selama masa insentif, BYD telah mengimpor sekitar 92 ribu unit kendaraan listrik ke Indonesia, yang kini mulai digantikan oleh produksi dalam negeri. Perusahaan menegaskan tidak akan melakukan impor tambahan untuk model yang sudah diproduksi secara lokal, sementara stok mobil yang telah diimpor akan tetap dipasarkan hingga habis terjual. Proses produksi di pabrik Subang mencakup empat tahap utama: stamping, welding, painting, hingga perakitan akhir, mendukung pengembangan berbagai model seperti Atto 1, M6 DM, serta persiapan produksi M6 EV dan Denza D9.

Kinerja efisien pabrik sangat bergantung pada tingkat utilisasi dan volume penjualan. Luther menekankan bahwa produksi lokal tidak otomatis mengurangi harga jika kapasitas tidak dimanfaatkan secara optimal. "Jika produksi tidak mencapai volume yang tinggi, biaya per unit justru bisa melonjak," ujarnya. Oleh karena itu, fokus utama saat ini adalah memaksimalkan kapasitas pabrik yang mencapai 150.000 unit per tahun agar efisiensi biaya dapat tercapai secara signifikan dalam jangka panjang.

Pengalihan produksi ke dalam negeri menunjukkan komitmen serius BYD dalam membangun ekosistem manufaktur kendaraan listrik di Indonesia. Dengan mengurangi ketergantungan pada impor dari China, perusahaan berharap dapat lebih responsif terhadap permintaan pasar domestik, sekaligus mendukung program pemerintah dalam mendorong industri otomotif nasional. Namun, dampak harga bagi konsumen tetap bergantung pada sejauh mana produksi dan penjualan bisa mencapai skala optimal.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya