Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Abu Vulkanik Ancam Keselamatan Penerbangan, Ini Risikonya

Erupsi Gunung Anak Krakatau memicu penutupan bandara dan pembatalan ratusan penerbangan akibat sebaran abu vulkanik yang berpotensi merusak mesin pesawat secara total.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 8 September 2026, 11.32 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Abu Vulkanik Ancam Keselamatan Penerbangan, Ini Risikonya
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Erupsi Gunung Anak Krakatau mengakibatkan penutupan sejumlah bandara dan pembatalan puluhan penerbangan di wilayah Sulawesi Tenggara dan sekitarnya. Penyebab utamanya adalah penyebaran awan abu vulkanik yang berisiko tinggi bagi keselamatan penerbangan. Kondisi ini mendorong otoritas penerbangan untuk mengambil langkah preventif, termasuk pengalihan rute dan penundaan operasional pesawat, demi mencegah kerusakan serius pada mesin dan sistem kritis lainnya.

Direktur Analisis Kecelakaan dan Pencegahan Ikatan Pilot Indonesia (IPI), Teguh Kristiono, menjelaskan bahwa abu vulkanik bersifat abrasif dan mudah meleleh saat bersentuhan dengan suhu tinggi di dalam mesin. Partikel halus berukuran hingga satu mikron dapat masuk ke ruang bakar, meleleh akibat temperatur pembakaran, lalu membeku di turbin dengan cepat. Material cair tersebut menempel dan mengganggu aliran gas bertekanan tinggi, yang berpotensi menyebabkan mesin kehilangan daya secara mendadak atau bahkan mati total dalam hitungan detik.

Selain risiko kegagalan mesin, abu vulkanik juga dapat merusak komponen lain seperti kompresor akibat pengikisan berulang, serta menyebabkan korsleting listrik karena masuk ke celah pelindung elektronik. Sistem tekanan kabin, filter udara, dan sensor kecepatan serta ketinggian juga rentan tersumbat, yang dapat mengganggu akurasi indikasi navigasi dan mengancam keselamatan penerbangan.

Karena belum ada standar kuantitatif resmi dari Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) mengenai ambang batas abu yang terlihat, keputusan operasional penerbangan ditentukan melalui analisis risiko berlapis. Pertimbangan utama mencakup keterbatasan deteksi radar terhadap awan abu, konsentrasi partikel, dan evaluasi tingkat bahaya berdasarkan data lapangan. Pesawat yang terpapar abu harus menjalani inspeksi mendalam sesuai pedoman ICAO, termasuk pelaporan, pemeriksaan menyeluruh, dan dokumentasi hasil, sebelum dinyatakan layak terbang kembali.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya