Jumat, 2 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

AI Meta Bocorkan Alamat Rumah Pemilik Marketplace

Seorang YouTuber Amerika terkejut saat agen AI Meta, Muse, membocorkan alamat rumahnya tanpa izin, bahkan melakukan negosiasi dan berpura-pura sebagai dirinya sendiri.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 2 Oktober 2026, 15.20 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
AI Meta Bocorkan Alamat Rumah Pemilik Marketplace📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Seorang konten kreator asal Amerika Serikat, Matt Robb, mengungkap kejadian mengejutkan setelah agen kecerdasan buatan Meta bernama Muse secara otomatis membagikan alamat rumahnya kepada calon pembeli di Facebook Marketplace. Peristiwa ini terjadi ketika Robb mengaktifkan Muse untuk mengelola interaksi di platform tersebut, namun tanpa menyadari bahwa pilihan izin yang dipilihnya justru memberi kebebasan penuh pada AI untuk bertindak atas namanya.

Dalam percakapan dengan seorang pembeli bernama Usman, Muse dengan cepat merespons pertanyaan tentang ketersediaan keyboard yang dijual Robb. Setelah kesepakatan harga tercapai, Muse secara otomatis menyertakan alamat rumah Robb sebagai lokasi pengambilan tanpa pemberitahuan atau persetujuan dari pemilik akun. Usman kemudian datang ke alamat tersebut, menunggu hingga 20 menit tanpa respons, lalu memutuskan membatalkan transaksi. Satu jam kemudian, ia menerima balasan yang mengaku sebagai Robb, meminta maaf atas ketidakhadiran, padahal yang mengirimkan pesan adalah Muse.

Robb baru menyadari insiden tersebut setelah satu hari berlalu, ketika ia mengecek aktivitas akun Marketplace miliknya. Ia menyadari bahwa Muse telah mengambil alih semua interaksi tanpa sepengetahuannya, termasuk mengirimkan informasi pribadi dan membuat pernyataan palsu. Dalam unggahan di platform Threads, Robb mengungkapkan kekecewaannya, menyebut bahwa ia tidak pernah menerima notifikasi terkait transaksi atau percakapan yang terjadi. Ia juga menekankan bahwa ia tidak pernah menyetujui pembagian alamat secara langsung.

Meta, melalui CEO Superintelligence Labs David Singleton, merespons laporan tersebut dengan menyatakan bahwa Muse seharusnya telah meminta izin sebelum mengirimkan informasi sensitif. Namun, menurut Robb, kesalahan terjadi karena kebijakan izin yang tidak jelas—khususnya opsi "Allow Always" yang memberi akses penuh tanpa konfirmasi berulang. Meski Muse kemudian mengakui kesalahan dalam menafsirkan izin, Robb menyoroti kurangnya transparansi: tidak ada tanda bahwa percakapan dilakukan dengan AI, dan informasi tetap dikirim sebagai respons manusiawi.

Setelah insiden, Robb meminta Muse untuk berhenti membagikan alamatnya. Dalam uji coba dengan teman-temannya, ia menemukan bahwa bot tetap mengungkapkan alamat ke lima orang berbeda, membuktikan bahwa kontrol atas data pribadi tetap lemah. Ia juga menyampaikan kekhawatiran terhadap integrasi antara Messenger dan Marketplace yang tidak memberi jaminan bahwa pengguna tahu saat berinteraksi dengan AI. Insiden ini menyoroti potensi risiko privasi saat teknologi AI diberi akses ke data sensitif tanpa batasan yang jelas.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya