AI Perlu Kendali Ketat, Pakar Soroti Risiko Eksistensial
Pakar kecerdasan buatan menekankan perlunya perlambatan pengembangan AI untuk menghindari ancaman eksistensial, menyusul kekhawatiran terhadap super-intelligence dan penyalahgunaan teknologi.
Redaksi iNarasikita·Kamis, 24 September 2026, 17.33 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 12x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Keprihatinan terhadap laju perkembangan kecerdasan buatan (AI) semakin mengemuka, menyusul upaya sejumlah perusahaan teknologi global untuk memperlambat inovasi model AI mutakhir. Alva Erwin, anggota AI Safety Institute Indonesia, menegaskan bahwa tanpa pengendalian, AI berpotensi membahayakan keberlangsungan manusia, sebagaimana halnya teknologi sosial lain yang membawa risiko tersembunyi. Ia menyebut bahwa ancaman bukan sekadar spekulasi, melainkan realitas yang perlu diantisipasi secara proaktif.
Menurut Erwin, risiko AI mencakup empat aspek utama: ancaman internal seperti bias dan halusinasi dalam model, potensi penyalahgunaan untuk kejahatan siber atau penyebaran informasi palsu, dampak sosio-ekonomi-lingkungan seperti penggantian tenaga kerja dan konsumsi energi tinggi, serta ketidakmampuan sistem regulasi yang tertinggal dari kemajuan teknologi. Keempat domain ini, jika tidak dikelola, dapat mengakibatkan ketidakstabilan yang mendalam di berbagai lapisan masyarakat.
Pendekatan perlambatan pengembangan, menurutnya, bukan tanda ketakutan, melainkan langkah strategis agar berbagai pihak—mulai dari masyarakat, industri, akademisi, hingga regulator—dapat menyiapkan kerangka etika, keamanan, dan regulasi yang memadai. Ia menyoroti bahwa kemampuan AI untuk memperbaiki diri secara mandiri (recursive self-improvement) memperbesar risiko jika sistem mencapai level kecerdasan yang jauh melampaui manusia tanpa kontrol.
Di tengah dinamika persaingan global, terutama antara Amerika Serikat dan China, upaya perlambatan sering dikaitkan dengan strategi geopolitik. Namun, Erwin menegaskan bahwa ancaman eksistensial tidak bisa diabaikan hanya karena adanya kepentingan kompetitif. Jika tidak diantisipasi, teknologi yang semakin cerdas dapat mengarah pada hasil yang tidak terduga dan sulit dikendalikan.
Dampak terhadap industri juga signifikan. Dengan perlambatan, fokus pengembangan akan bergeser dari ukuran model besar menuju efisiensi, arsitektur yang lebih presisi seperti RAG, serta kompresi data. Hal ini berpotensi memperkuat peran regulator independen serupa lembaga pengawas pasar modal, meski akan menambah beban biaya bagi perusahaan kecil. Di sisi lain, ekosistem open source berpeluang tumbuh lebih pesat, selama regulasi tidak membatasi akses terhadap perangkat keras seperti GPU.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Qualcomm Perkenalkan Chipset Terbaru untuk Smartphone Premium
Qualcomm meluncurkan dua chipset flagship baru, Snapdragon 8 Elite Extreme Gen 6 dan 8 Elite Gen 6, yang menawarkan kinerja tinggi, dukungan AI agentic, dan fitur multimedia canggih untuk perangkat premium.
24 September 2026

Indonesia-Rusia Jajaki Kolaborasi Satelit dan Kecerdasan Buatan
Pemerintah Indonesia dan Rusia memperdalam pembicaraan tentang kerja sama teknologi satelit dan kecerdasan buatan untuk mendukung transformasi digital nasional.
24 September 2026

Pemerintah Perkuat Akurasi Bansos Lewat Teknologi Wajah dan Data Terintegrasi
Pemerintah memperbarui sistem verifikasi penerima bantuan sosial dengan integrasi face recognition dan data kepemilikan aset dari Dukcapil, BPN, hingga kepolisian untuk memastikan keakuratan dan keadilan distribusi bantuan.
24 September 2026

Status Kepegawaian Manajer Kopdes Diperjelas, Dua Pernyataan Berbeda Muncul
Penjelasan berbeda dari pejabat BUMN mengenai status kepegawaian manajer Kopdes Merah Putih memicu kebingungan, meski semua menyepakati skema PKWT dua tahun dan keterlibatan Agrinas sebagai pelaksana.
24 September 2026
Berita Lainnya

Presiden Bentuk Badan Nasional untuk Pencegahan Karhutla dari Akar Rumput
Kamis, 24 September 2026, 23.29 WITA

Presiden Dorong Riset Optimalisasi Lahan Gambut
Kamis, 24 September 2026, 23.29 WITA

Mabes Polri Ambil Alih Penyelidikan Tenggelamnya Kapal Virgo
Kamis, 24 September 2026, 23.29 WITA

Pemprov NTB dan DPR RI Perkuat Perlindungan PMI dari Hulu ke Hilir
Kamis, 24 September 2026, 23.29 WITA

Penyusunan UU Reforma Agraria Dilakukan dengan Pertimbangan Mendalam
Kamis, 24 September 2026, 23.28 WITA

Penularan HIV: Fakta Ilmiah di Balik Mitos yang Berkembang
Kamis, 24 September 2026, 23.22 WITA

Mobil Penumpang Kapal Pesiar Dipenuhi Anak Laba-Laba di Galveston
Kamis, 24 September 2026, 23.15 WITA

Vaksindo Ekspor Vaksin Unggas ke Afrika, Capai Rp1,9 Miliar
Kamis, 24 September 2026, 23.15 WITA

