Anak Krakatau Mulai Bangun Tubuh Baru Pasca-Kolaps 2018
Setelah runtuhnya sektor barat daya pada 2018, Gunung Anak Krakatau kini secara perlahan membangun kembali tubuhnya melalui aktivitas erupsi yang berubah secara dinamis.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 25 September 2026, 15.21 WITA·👁 4 orang membaca· 4 hari ini · 7x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Setelah peristiwa kolaps besar pada Desember 2018, Gunung Anak Krakatau kini menunjukkan tanda-tanda pemulihan morfologi melalui proses pertumbuhan baru. Berdasarkan analisis dari pakar BRIN, aktivitas vulkanik yang terjadi sejak 2019 mengarah pada fase rekonstruksi, di mana material vulkanik mulai menumpuk kembali di dalam kawah bekas runtuh. Proses ini menandai awal dari siklus baru dalam evolusi gunung api yang telah lama dikenal sebagai sistem dinamis.
Peristiwa kolaps 2018 menyebabkan sebagian besar tubuh gunung, terutama di sektor barat daya, ambruk ke laut dengan volume material mencapai 0,116 kilometer kubik. Akibatnya, ketinggian puncak turun dari sekitar 300 meter menjadi hanya 120 meter, serta memicu gelombang tsunami di Selat Sunda. Perubahan morfologi ini juga mengubah pola erupsi secara signifikan, dari dominasi erupsi Strombolian menjadi aktivitas Surtseyan yang lebih eksplosif akibat interaksi magma dengan air laut.
Kini, aktivitas erupsi telah bertransisi kembali ke tipe Strombolian, disertai fenomena fountain lava dan aliran lava yang secara bertahap membentuk kerucut baru di dalam kawah pascakolaps. Material hasil erupsi mulai menumpuk, terutama di area yang sebelumnya menjadi dasar laut yang lebih dangkal. Proses ini menunjukkan bahwa pertumbuhan gunung tidak terjadi secara merata, melainkan dipengaruhi oleh kondisi geologis dasar yang berbeda di setiap sisi.
Perbedaan kemiringan lereng dan sifat material menyebabkan pertumbuhan yang tidak simetris. Sektor barat daya berdiri di atas lereng kaldera yang lebih curam, sedangkan timur laut terletak di dasar laut yang lebih landai. Material awal yang terbentuk dari interaksi air dan magma bersifat ringan dan berpori, sementara lava padat mulai menumpuk sejak era 1960-an. Penumpukan massa yang lebih berat di atas dasar yang lebih ringan, ditambah ketidakstabilan lereng di sisi barat daya, menjadi faktor kunci dalam dinamika evolusi bentuk gunung.
Penelitian ini menegaskan bahwa pemahaman terhadap siklus pertumbuhan dan keruntuhan Anak Krakatau sangat penting untuk mitigasi bencana dan pemantauan jangka panjang. Perubahan morfologi dan pola erupsi setelah 2018 menunjukkan bahwa gunung api ini tidak berhenti berubah, melainkan terus mengalami transformasi yang membentuk karakteristik baru dalam sejarah vulkaniknya.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Brad Pitt dan Anjingnya Berjuang Bertahan di Hutan Alaska
Film thriller survival *Heart of the Beast* tayang di bioskop Indonesia 23 September 2026, menggambarkan perjalanan James Belmont dan anjing militer Odin melawan alam liar setelah kecelakaan pesawat di Alaska.
25 September 2026

Cinta Palsu yang Menggugah Hipotesis Cinta
Film romantis berdasarkan novel bestseller menggambarkan dinamika hubungan fiktif antara mahasiswa doktoral dan profesor ketat yang berubah jadi kenyataan.
25 September 2026

Laga Indonesia vs Singapura di GBK, Dishub Siagakan 80 Petugas
Dishub DKI siagakan 80 petugas dan siapkan 10 kantong parkir untuk menjamin kelancaran akses selama pertandingan FIFA ASEAN Cup 2026 di GBK.
25 September 2026

Harman Usir 500 Ribu Tautan Produk JBL Palsu di Asia Pasifik
Harman International menghapus lebih dari 500.000 tautan produk JBL ilegal di platform digital Asia Pasifik sepanjang 2025, dengan fokus pada pencegahan peredaran barang palsu dan pelanggaran HAKI.
25 September 2026
Berita Lainnya

Rupiah Menguat di Akhir Pekan, Dolar AS Melemah
Jumat, 25 September 2026, 17.47 WITA

IHSG Anjlok Lebih dari 1% Jelang Penutupan Pepekan
Jumat, 25 September 2026, 17.47 WITA

Ram Jethmal Punjabi Perkuat Kepemilikan Saham RAAM
Jumat, 25 September 2026, 17.47 WITA

IHSG Terpuruk 0,82% ke 6.247 di Akhir Pekan
Jumat, 25 September 2026, 17.46 WITA

Aturan Baru Pelaporan Insidental Resmi Berlaku 1 Oktober
Jumat, 25 September 2026, 17.46 WITA

OJK Jelaskan Mekanisme Transaksi Saham BYAN di Pasar Negosiasi
Jumat, 25 September 2026, 17.46 WITA

KAI Usulkan Impor KRL Bekas Jepang untuk Atasi Kekurangan Armada
Jumat, 25 September 2026, 17.46 WITA

Imbal Hasil Obligasi AS Tembus Puncak 22 Tahun
Jumat, 25 September 2026, 17.46 WITA

