Jumat, 25 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Anjlok Lebih dari 1% Jelang Penutupan Pepekan

Indeks Harga Saham Gabungan turun lebih dari 1% pada akhir perdagangan Jumat, dipicu tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi AS dan sentimen global yang membebani pasar lokal.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 25 September 2026, 17.47 WITA·👁 2 orang membaca· 2 hari ini · 6x dibuka
IHSG Anjlok Lebih dari 1% Jelang Penutupan Pepekan📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan pekan ini dengan penurunan signifikan, merosot di atas level 1% ke posisi 6.232,38. Pergerakan ini terjadi pada sesi II, setelah sebelumnya sempat menguat pada pembukaan pasar di angka 6.315,53 dan mencatatkan level tertinggi harian di 6.328,41. Namun, tekanan jual yang intens memicu penurunan tajam sejak pukul 10.00, dengan indeks menyentuh level terendah sesi di 6.235,18 sebelum akhirnya stabil di kisaran 6.236,53 pada penutupan.

Aktivitas pasar menunjukkan volume perdagangan yang tinggi, mencapai 21,04 miliar saham, dengan total lot yang diperdagangkan mencapai 210,44 juta lot dan nilai transaksi menembus Rp6,7 triliun. Kenaikan aktivitas tersebut mencerminkan pergerakan agresif investor yang merespons berbagai isu ekonomi domestik maupun global. Di dalam negeri, fokus pasar tertuju pada perkembangan uang beredar, kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga nilai tukar rupiah, serta hasil rapat evaluasi kondisi ekonomi dan struktur APBN tahun 2027.

Dari luar negeri, sentimen negatif berasal dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang mencapai level tertinggi dalam lebih dari 22 tahun. Yield obligasi tenor 10 tahun melonjak ke 5,20%, sementara yield 30 tahun menyentuh 5,48%—level tertinggi sejak 2004. Dua pejabat Federal Reserve, Anna Paulson dan John Williams, menyatakan inflasi AS masih "membandel" dan membuka kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut hingga akhir 2026. Inflasi PCE AS pada Juli tercatat 3,7%, jauh di atas target 2%.

Lonjakan imbal hasil ini memperkuat tekanan terhadap pasar keuangan global, termasuk pasar obligasi dan saham. Biaya pinjaman masyarakat di AS pun meningkat, dengan suku bunga KPR 30 tahun kini berada di sekitar 7%, naik 1 poin persentase dibanding sebelumnya. Di Asia-Pasifik, bursa saham bergerak bervariasi: Nikkei 225 dan Topix Jepang menguat masing-masing 0,25% dan 0,40%, sementara S&P/ASX 200 Australia melemah 0,48%, menunjukkan ketidakseimbangan persepsi terhadap risiko global.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya