IHSG Anjlok Lebih dari 1% Jelang Penutupan Pepekan
Indeks Harga Saham Gabungan turun lebih dari 1% pada akhir perdagangan Jumat, dipicu tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi AS dan sentimen global yang membebani pasar lokal.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 25 September 2026, 17.47 WITA·👁 2 orang membaca· 2 hari ini · 6x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan pekan ini dengan penurunan signifikan, merosot di atas level 1% ke posisi 6.232,38. Pergerakan ini terjadi pada sesi II, setelah sebelumnya sempat menguat pada pembukaan pasar di angka 6.315,53 dan mencatatkan level tertinggi harian di 6.328,41. Namun, tekanan jual yang intens memicu penurunan tajam sejak pukul 10.00, dengan indeks menyentuh level terendah sesi di 6.235,18 sebelum akhirnya stabil di kisaran 6.236,53 pada penutupan.
Aktivitas pasar menunjukkan volume perdagangan yang tinggi, mencapai 21,04 miliar saham, dengan total lot yang diperdagangkan mencapai 210,44 juta lot dan nilai transaksi menembus Rp6,7 triliun. Kenaikan aktivitas tersebut mencerminkan pergerakan agresif investor yang merespons berbagai isu ekonomi domestik maupun global. Di dalam negeri, fokus pasar tertuju pada perkembangan uang beredar, kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga nilai tukar rupiah, serta hasil rapat evaluasi kondisi ekonomi dan struktur APBN tahun 2027.
Dari luar negeri, sentimen negatif berasal dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang mencapai level tertinggi dalam lebih dari 22 tahun. Yield obligasi tenor 10 tahun melonjak ke 5,20%, sementara yield 30 tahun menyentuh 5,48%—level tertinggi sejak 2004. Dua pejabat Federal Reserve, Anna Paulson dan John Williams, menyatakan inflasi AS masih "membandel" dan membuka kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut hingga akhir 2026. Inflasi PCE AS pada Juli tercatat 3,7%, jauh di atas target 2%.
Lonjakan imbal hasil ini memperkuat tekanan terhadap pasar keuangan global, termasuk pasar obligasi dan saham. Biaya pinjaman masyarakat di AS pun meningkat, dengan suku bunga KPR 30 tahun kini berada di sekitar 7%, naik 1 poin persentase dibanding sebelumnya. Di Asia-Pasifik, bursa saham bergerak bervariasi: Nikkei 225 dan Topix Jepang menguat masing-masing 0,25% dan 0,40%, sementara S&P/ASX 200 Australia melemah 0,48%, menunjukkan ketidakseimbangan persepsi terhadap risiko global.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Rupiah Menguat di Akhir Pekan, Dolar AS Melemah
Rupiah ditutup menguat tipis ke Rp17.880 per dolar AS pada Jumat (25/9/2026), setelah sempat melemah di awal perdagangan.
25 September 2026

Ram Jethmal Punjabi Perkuat Kepemilikan Saham RAAM
Pendiri RAAM, Ram Jethmal Punjabi, tambahkan 918.300 saham melalui lima transaksi, tingkatkan kepemilikan hingga 68,83%.
25 September 2026

IHSG Terpuruk 0,82% ke 6.247 di Akhir Pekan
Indeks Harga Saham Gabungan melemah 0,82% ke level 6.247, dipengaruhi tekanan dari sektor pendidikan dan bank, serta lonjakan yield obligasi AS.
25 September 2026

Aturan Baru Pelaporan Insidental Resmi Berlaku 1 Oktober
OJK terbitkan POJK 9/2026 untuk wajibkan pelaporan insidental melalui sistem terintegrasi mulai 1 Oktober 2026.
25 September 2026
Berita Lainnya

OJK Jelaskan Mekanisme Transaksi Saham BYAN di Pasar Negosiasi
Jumat, 25 September 2026, 17.46 WITA

KAI Usulkan Impor KRL Bekas Jepang untuk Atasi Kekurangan Armada
Jumat, 25 September 2026, 17.46 WITA

Imbal Hasil Obligasi AS Tembus Puncak 22 Tahun
Jumat, 25 September 2026, 17.46 WITA

Komisaris Independen Pelindo Jasa Maritim Dicopot Setelah Lima Hari Menjabat
Jumat, 25 September 2026, 17.45 WITA

Dana Pensiun Boleh Investasi Luar Negeri, Aturan Dibuat Ketat
Jumat, 25 September 2026, 17.45 WITA

Livin' Merchant Dorong Digitalisasi UMKM di Daerah
Jumat, 25 September 2026, 17.45 WITA

BRImo Hadirkan Diskon & Hadiah Spesial di Pestapora Jakarta 2026
Jumat, 25 September 2026, 17.45 WITA

Bantuan Rp1,7 Miliar Disalurkan untuk Pemulihan NTT
Jumat, 25 September 2026, 17.44 WITA

