Jumat, 25 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Imbal Hasil Obligasi AS Tembus Puncak 22 Tahun

Yield obligasi AS tenor 30 tahun melonjak ke 5,48 persen, level tertinggi sejak 2004, menandai tekanan pasar global akibat ekspektasi inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang kuat.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 25 September 2026, 17.46 WITA·👁 2 orang membaca· 2 hari ini · 4x dibuka
Imbal Hasil Obligasi AS Tembus Puncak 22 Tahun📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat dengan jangka waktu 30 tahun berhasil menembus angka 5,48 persen, mencatat rekor tertinggi dalam dua dekade terakhir, sejak tahun 2004. Kenaikan ini terjadi pada Kamis (24/9), mengikuti tren penurunan harga obligasi yang berkelanjutan. Peningkatan yield ini tidak terlepas dari kekhawatiran pasar terhadap inflasi yang masih tinggi, pertumbuhan ekonomi AS yang kokoh, serta peningkatan belanja pemerintah yang berdampak pada beban utang jangka panjang.

Yield obligasi AS tenor 10 tahun juga mencatat angka 5,20 persen, menunjukkan tekanan menyeluruh di pasar surat utang negara. Kenaikan imbal hasil ini menjadi indikator bahwa investor mulai mempertimbangkan risiko jangka panjang dalam menahan aset bebas risiko. Pasar keuangan global kini memperhatikan kemungkinan yield 10 tahun AS mencapai level 6 persen sebagai titik ambang baru yang bisa mengguncang stabilitas pasar keuangan dan perusahaan.

Dampak langsung terasa dalam biaya pinjaman konsumen, terutama pada sektor perumahan. Suku bunga hipotek tenor 30 tahun kini berada di sekitar 7 persen—naik sekitar satu poin persentase dibandingkan sebelum konflik Iran. Angka ini merupakan yang tertinggi dalam dua tahun terakhir. Sejak rapat kebijakan Federal Reserve bulan Juni, yield 10 tahun AS telah naik 0,70 poin, sementara sejak awal Maret meningkat 1,25 poin, menunjukkan momentum kenaikan yang signifikan.

Pemicu utama kenaikan imbal hasil berasal dari ekspektasi kenaikan suku bunga yang lebih tinggi di masa depan, didukung oleh data aktivitas bisnis yang menunjukkan ekonomi AS tetap tangguh. Kepala Strategi Suku Bunga AS di TD Securities, Gennadiy Goldberg, menekankan bahwa sebagian besar kenaikan berasal dari ekspektasi kebijakan Federal Reserve, dengan kontribusi tambahan dari kenaikan harga minyak dan pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dari yang diperkirakan. Di sisi lain, pasar obligasi global juga mengalami tekanan serupa, dengan Jerman dan Jepang melaporkan rekor tinggi pada yield tenor 10 tahun.

Meski yield terus naik, pertumbuhan nominal ekonomi AS pada kuartal II mencapai 8 persen, menunjukkan belum adanya tanda perlambatan signifikan. Namun, kenaikan biaya utang tetap menjadi perhatian serius. Menteri Keuangan AS Scott Bessent telah mengambil langkah antisipatif, termasuk intervensi pasar valuta asing dan pertimbangan perluasan pembelian kembali surat utang tenor 20 dan 30 tahun. Meski demikian, langkah tersebut belum mampu menahan kenaikan yield. Saat ini, AS berada di posisi imbal hasil tertinggi di antara negara-negara G7, mencerminkan ketegangan antara permintaan pasar dan beban keuangan pemerintah.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya