Jumat, 25 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Menguat di Akhir Pekan, Dolar AS Melemah

Rupiah ditutup menguat tipis ke Rp17.880 per dolar AS pada Jumat (25/9/2026), setelah sempat melemah di awal perdagangan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 25 September 2026, 17.47 WITA·👁 2 orang membaca· 2 hari ini · 5x dibuka
Rupiah Menguat di Akhir Pekan, Dolar AS Melemah📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Jumat (25/9/2026) menunjukkan penguatan sebesar 0,03% ke level Rp17.880 per dolar AS, berdasarkan data Refinitiv. Pergerakan mata uang nasional berjalan dinamis sepanjang hari, dimulai dari pelemahan 0,08% pada pembukaan di angka Rp17.900, lalu sempat menyentuh level terlemah di Rp17.935 sebelum memperbaiki posisi menjelang penutupan. Kenaikan 55 poin dari posisi terendah hariannya menjadi indikasi kembali pulihnya kepercayaan pasar terhadap rupiah.

Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, turun 0,12% ke level 101,169 pada pukul 15.00 WIB. Penurunan ini memberi ruang bagi rupiah untuk membalikkan tekanan awal. Meski demikian, DXY tetap berada di level tinggi, setelah sebelumnya mencapai posisi terkuat dalam dua bulan terakhir. Kenaikan imbal hasil obligasi AS, terutama pada tenor 30 tahun yang menyentuh tertinggi sejak Juni 2004 dan tenor 10 tahun yang mencapai puncak dalam hampir dua dekade, menjadi pendorong utama penguatan dolar global.

Dorongan tersebut diperkuat oleh data ekonomi AS yang menunjukkan pasar tenaga kerja tetap kuat. Jumlah klaim awal tunjangan pengangguran turun menjadi 197.000 pada pekan lalu, lebih rendah dari estimasi pasar sebesar 201.000. Di sisi lain, kenaikan harga minyak hampir 4% akibat serangan rudal kelompok Houthi terhadap Arab Saudi meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi, yang berpotensi menaikkan inflasi global. Sejumlah pejabat The Fed, termasuk John Williams dan Anna Paulson, menyatakan kemungkinan pengetatan moneter lebih lanjut jika tekanan inflasi tidak mereda.

Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada pertemuan Oktober naik menjadi 68,6%, meningkat dari 55,4% pada pekan sebelumnya. Di tengah tekanan global tersebut, Bank Indonesia menegaskan komitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai fundamental ekonomi. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menegaskan bahwa BI tetap aktif di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan optimal dan mencegah fluktuasi berlebihan.

Strategi operasi moneter BI tetap berbasis pada prinsip pasar yang efisien, dengan fokus pada pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang dan peningkatan efektivitas stabilisasi nilai tukar. Koordinasi intensif dengan korporasi dan pelaku pasar juga terus diperkuat untuk mendorong aliran modal asing dan mengelola kebutuhan valuta asing dalam negeri secara berkelanjutan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekonomi makro di tengah volatilitas pasar global.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya