IHSG Terpuruk 0,82% ke 6.247 di Akhir Pekan
Indeks Harga Saham Gabungan melemah 0,82% ke level 6.247, dipengaruhi tekanan dari sektor pendidikan dan bank, serta lonjakan yield obligasi AS.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 25 September 2026, 17.46 WITA·👁 2 orang membaca· 2 hari ini · 5x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah pada perdagangan terakhir pekan ini, merosot 51,54 poin atau 0,82% ke posisi 6.247,07. Dari total saham yang diperdagangkan, 587 mengalami penurunan, 254 stagnan, dan hanya 122 yang menguat. Volume perdagangan mencapai 23,93 miliar saham dengan total nilai transaksi mencapai Rp8,139 triliun, menunjukkan aktivitas pasar yang meningkat meski berada dalam tren negatif.
Kinerja sektor menjadi faktor utama penurunan, terutama sektor layanan akademik dan pendidikan yang anjlok 10,26%, disusul industri yang turun 1,9% dan real estate minus 1,4%. Beberapa emiten utama turut menjadi beban utama, antara lain PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), serta PT Barito Pacific Tbk. (BRPT). Sementara itu, saham penopang seperti PT Fortune Indonesia Tbk. (FORU), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), dan PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) mampu menahan tekanan.
Di sisi makro, sentimen global dominan memengaruhi pasar dalam negeri. Dua pejabat Federal Reserve, Anna Paulson dan John Williams, menegaskan inflasi AS masih tinggi dan membutuhkan kebijakan moneter ketat lebih lanjut. Inflasi PCE AS pada Juli 2026 mencapai 3,7%, jauh di atas target 2%. Hal ini mendorong lonjakan yield obligasi AS, dengan yield Treasury 10 tahun menyentuh 5,20% dan 30 tahun mencapai 5,48%, tertinggi sejak 2004. Kenaikan ini memperkuat tekanan terhadap pasar keuangan global dan menaikkan biaya pinjaman.
Pergerakan pasar Asia-Pasifik beragam, dengan Nikkei 225 Jepang naik 0,25% dan Topix menguat 0,40%, sementara S&P/ASX 200 Australia turun 0,48%. Investor tetap waspada terhadap dinamika yield AS, harga minyak, konflik geopolitik di Timur Tengah, serta kebijakan Bank Indonesia terkait rupiah dan pertumbuhan uang beredar. Di dalam negeri, fokus juga tertuju pada hasil pembahasan APBN 2027 dan kondisi ekonomi makro yang akan menentukan arah pasar ke depan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Rupiah Menguat di Akhir Pekan, Dolar AS Melemah
Rupiah ditutup menguat tipis ke Rp17.880 per dolar AS pada Jumat (25/9/2026), setelah sempat melemah di awal perdagangan.
25 September 2026

IHSG Anjlok Lebih dari 1% Jelang Penutupan Pepekan
Indeks Harga Saham Gabungan turun lebih dari 1% pada akhir perdagangan Jumat, dipicu tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi AS dan sentimen global yang membebani pasar lokal.
25 September 2026

Ram Jethmal Punjabi Perkuat Kepemilikan Saham RAAM
Pendiri RAAM, Ram Jethmal Punjabi, tambahkan 918.300 saham melalui lima transaksi, tingkatkan kepemilikan hingga 68,83%.
25 September 2026

Aturan Baru Pelaporan Insidental Resmi Berlaku 1 Oktober
OJK terbitkan POJK 9/2026 untuk wajibkan pelaporan insidental melalui sistem terintegrasi mulai 1 Oktober 2026.
25 September 2026
Berita Lainnya

OJK Jelaskan Mekanisme Transaksi Saham BYAN di Pasar Negosiasi
Jumat, 25 September 2026, 17.46 WITA

KAI Usulkan Impor KRL Bekas Jepang untuk Atasi Kekurangan Armada
Jumat, 25 September 2026, 17.46 WITA

Imbal Hasil Obligasi AS Tembus Puncak 22 Tahun
Jumat, 25 September 2026, 17.46 WITA

Komisaris Independen Pelindo Jasa Maritim Dicopot Setelah Lima Hari Menjabat
Jumat, 25 September 2026, 17.45 WITA

Dana Pensiun Boleh Investasi Luar Negeri, Aturan Dibuat Ketat
Jumat, 25 September 2026, 17.45 WITA

Livin' Merchant Dorong Digitalisasi UMKM di Daerah
Jumat, 25 September 2026, 17.45 WITA

BRImo Hadirkan Diskon & Hadiah Spesial di Pestapora Jakarta 2026
Jumat, 25 September 2026, 17.45 WITA

Bantuan Rp1,7 Miliar Disalurkan untuk Pemulihan NTT
Jumat, 25 September 2026, 17.44 WITA

