Sabtu, 19 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Argentina Menang Dramatis, Inggris Gagal ke Final

Argentina menundukkan Inggris 2-1 di semifinal Piala Dunia 2026, melalui gol penentu Lautaro Martínez di injury time, melaju ke final melawan Spanyol.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 19 September 2026, 14.41 WITA·👁 3 orang membaca· 3 hari ini · 4x dibuka
Argentina Menang Dramatis, Inggris Gagal ke Final📷 Tempo

Kendari, ıNarasikita - Pertandingan sengit antara Argentina dan Inggris berakhir dengan kemenangan tim tuan rumah setelah gol penentu di menit ke-90+2. Tim asuhan Thomas Tuchel sempat unggul lewat gol Anthony Gordon pada menit ke-55, setelah memanfaatkan umpan silang dari sisi kiri yang diarahkan Morgan Rogers. Namun, dominasi sejenak itu tak mampu dipertahankan karena tekanan terus mengalir dari Argentina.

Pada menit ke-85, Enzo Fernandez mencatatkan namanya di papan skor dengan tembakan jarak jauh yang menggetarkan gawang Inggris. Tekanan terus berlanjut hingga akhirnya, di masa injury time, Lionel Messi mengirim umpan silang yang disambut sundulan Lautaro Martínez, memastikan kemenangan 2-1 untuk Argentina. Gol tersebut tidak hanya membalikkan keadaan, tetapi juga mengantarkan tim asal Amerika Selatan ke final Piala Dunia 2026.

Wayne Rooney, mantan penyerang Inggris, menyampaikan kekecewaan atas performa timnya. Ia menilai Inggris kehilangan arah setelah unggul, dengan permainan yang stagnan dan tidak mampu merespons tekanan lawan. "Kami berada dalam posisi bagus, tapi kemudian berhenti bergerak. Mereka menciptakan peluang, dan pertahanan kami runtuh. Sangat mengecewakan," ujarnya usai pertandingan. Ia juga menyayangkan keputusan pergantian pemain oleh Tuchel, yang menurutnya tidak efektif mengurangi tekanan dari Argentina.

Kritik serupa datang dari mantan bek nasional, Micah Richards, yang menilai perubahan taktik Tuchel saat mengubah formasi menjadi lima bek merupakan langkah yang keliru. Menurut Richards, tim seharusnya tetap mempertahankan kecepatan dan memasukkan pemain sayap untuk menyeimbangkan permainan. "Kami kehilangan momentum. Formasi lima bek justru membuat kami kehilangan kontrol di tengah lapangan," kata dia. Ia menegaskan bahwa kegagalan ini bukan hanya soal taktik, tetapi juga kurangnya keberuntungan dalam momen krusial.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya