Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Argentina Siap Sanksi Perusahaan Eksploitasi Minyak di Falkland

Presiden Argentina Javier Milei siap menerapkan sanksi terhadap perusahaan yang menggarap proyek minyak di Kepulauan Falkland, menegaskan kedaulatan Argentina atas wilayah tersebut.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 14.42 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Argentina Siap Sanksi Perusahaan Eksploitasi Minyak di Falkland
Foto: ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Presiden Argentina Javier Milei mengumumkan langkah tegas dalam upaya mempertahankan kedaulatan atas Kepulauan Falkland dengan menandatangani dekrit yang mempercepat prosedur pemberian sanksi kepada pihak-pihak yang terlibat dalam proyek produksi minyak di wilayah yang disengketakan. Keputusan ini diambil dalam pidato kenegaraan yang disampaikan pada Kamis malam, sebagai respons terhadap rencana operasional proyek yang dipimpin oleh Nativas Petroleum.

Milei menekankan bahwa kehadiran aktivitas eksploitasi minyak di wilayah yang diklaim Argentina secara historis akan memperkuat posisi Inggris secara strategis dan ekonomi, sehingga berpotensi mengancam kepentingan nasional negara. Ia menyatakan bahwa membiarkan proyek tersebut berjalan tanpa respons berarti akan menciptakan preseden berbahaya bagi klaim kedaulatan yang sedang dipertahankan Argentina.

Selain proyek Nativas Petroleum, presiden juga menyebut adanya perusahaan dan inisiatif lain yang turut menimbulkan ancaman terhadap kepentingan strategis Argentina di kawasan. Ia menegaskan bahwa respons yang diambil harus proporsional dan komprehensif, tidak hanya terhadap satu entitas, tetapi secara menyeluruh terhadap setiap bentuk eksplorasi yang dianggap melanggar hak kedaulatan.

Sengketa kedaulatan atas Kepulauan Falkland telah berlangsung puluhan tahun antara Argentina dan Inggris. Konflik puncak terjadi pada 1982, saat perang singkat berakhir dengan kekalahan Argentina. Sejak itu, Inggris mempertahankan kendali atas wilayah tersebut, yang pada 2013 melalui referendum menghasilkan dukungan 99,8 persen dari warga setempat untuk tetap menjadi wilayah otonom Inggris. Argentina tetap menolak hasil referendum tersebut dan menegaskan klaimnya secara konsisten.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya