Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Abunya Krakatau Ancam Konektivitas Penerbangan Nasional

Erupsi Gunung Anak Krakatau berpotensi picu gangguan berantai pada jaringan penerbangan nasional dan internasional jika sebaran abu berlangsung lebih dari tiga hari.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 8 September 2026, 19.32 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Abunya Krakatau Ancam Konektivitas Penerbangan Nasional
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Gangguan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau kini berpotensi meluas menjadi tantangan sistemik bagi seluruh jaringan penerbangan di Indonesia. Dengan aktivitas vulkanik yang berkepanjangan, sebaran abu vulkanik dapat memengaruhi lebih dari satu rute penerbangan, bukan hanya wilayah lokal. Bandara Soekarno-Hatta, sebagai pusat utama konektivitas nasional, menjadi titik kritis yang jika terganggu dapat memicu dampak berantai di seluruh sistem penerbangan.

Kondisi ini diperparah oleh ketergantungan pesawat pada jadwal bertahap. Satu penundaan pada penerbangan pagi dapat menggeser jadwal seluruh rute berikutnya, karena pesawat yang sama digunakan untuk beberapa rute dalam satu hari. Menurut pernyataan pejabat dari INACA, perubahan arah angin menjadi penentu utama sebaran dampak — jika ke barat, maka Halim Perdanakusuma dan Bandung terancam; jika ke selatan, rute ke Bali dan Lombok perlu dipantau ketat.

Durasi erupsi menjadi indikator kritis bagi industri penerbangan. Jika aktivitas abu berlangsung lebih dari tiga hari, risiko menurunnya kepercayaan penumpang mulai muncul. Banyak calon penumpang yang mulai menunda perjalanan ke daerah seperti Lampung, Banten, bahkan Jakarta, karena ketidakpastian operasional. Hal ini berpotensi menurunkan permintaan, bukan hanya secara lokal, tetapi juga memengaruhi aktivitas ekonomi di kawasan terdampak.

Dampak tidak hanya terbatas pada penerbangan domestik. Maskapai internasional juga dapat mengubah rute penerbangan untuk menghindari wilayah udara Jakarta jika dinilai berisiko. Jika kondisi ini berlangsung lama, maka akan terjadi penurunan konektivitas internasional, peningkatan biaya logistik, serta dampak terhadap pariwisata dan kegiatan bisnis di Jakarta serta daerah sekitarnya. Kesiapan mitigasi dan koordinasi antarlembaga menjadi kunci untuk meminimalkan kerugian sistemik.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya