Senin, 26 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

AS Perluas Sanksi Ekonomi ke Iran, China dan Rusia Tolak Ikut

Amerika Serikat memperluas sanksi ekonomi terhadap Iran dengan ancaman konsekuensi berat bagi negara yang tetap bermitra, tetapi China dan Rusia menegaskan tidak akan ikut serta dan menolak sanksi sepihak sebagai bentuk tekanan ilegal.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 20.33 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
AS Perluas Sanksi Ekonomi ke Iran, China dan Rusia Tolak Ikut📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Amerika Serikat kembali memperkuat tekanan ekonomi terhadap Iran dengan mengancam sanksi berat terhadap semua negara yang tetap menjalin kerja sama bisnis, termasuk di sektor keuangan, transportasi, dan pemerintahan. Ancaman ini disampaikan secara langsung oleh Presiden Donald Trump melalui platform media sosial, menekankan bahwa operasi tersebut merupakan bentuk isolasi ekonomi terbesar dalam sejarah. Tujuannya adalah memutus akses Iran ke pasar global dan menekan kapasitas ekonominya secara signifikan.

China secara tegas menyatakan tidak akan mematuhi sanksi tersebut, menekankan bahwa kerja sama dengan Iran berjalan sesuai hukum internasional dan tidak dapat diganggu oleh kebijakan unilateral. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menegaskan bahwa tindakan AS yang mengenakan sanksi sekunder terhadap negara lain dianggap ilegal dan tidak memiliki dasar hukum maupun otorisasi dari Dewan Keamanan PBB. Ia juga memperingatkan dampak potensial dari sanksi tersebut terhadap stabilitas sistem keuangan global.

Rusia menyambut sikap China dan menegaskan kesiapan berkoordinasi dengan Iran serta negara-negara lain yang terdampak. Pihak Moskow menilai kebijakan ekonomi AS sebagai bentuk tekanan ilegal yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Piagam PBB. Dalam konferensi pers, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menyoroti bahwa serangan militer AS dan Israel terhadap Iran telah menimbulkan gejolak di pasar energi global, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak dan 33 persen pasokan gas terdampak. Ia menegaskan bahwa Rusia menolak segala bentuk sanksi sepihak yang bersifat koersif dan tidak sah.

Kedua negara besar tersebut menekankan pentingnya menjaga kerja sama lintas negara berdasarkan hukum internasional, bukan kebijakan unilaterali yang merusak keterbukaan ekonomi global. Dengan sikap bersama, China dan Rusia menunjukkan komitmen untuk melindungi hubungan ekonomi strategis dengan Iran meski menghadapi tekanan dari blok Barat. Tujuan utama mereka adalah mencegah penggunaan alat ekonomi sebagai alat politik yang merusak stabilitas global.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya