Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

AS Setujui Ekspor Senjata US$1,96 Miliar ke Saudi

AS menyetujui penjualan senjata senilai US$1,96 miliar ke Arab Saudi sebagai bagian dari dukungan keamanan strategis di tengah meningkatnya ketegangan dengan kelompok Houthi dan Iran.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 21.04 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
AS Setujui Ekspor Senjata US$1,96 Miliar ke Saudi📷 Tempo

Kendari, ıNarasikita - Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengonfirmasi persetujuan penjualan senjata bernilai sekitar US$1,96 miliar (setara Rp35,24 triliun) kepada Arab Saudi pada 15 Juli 2026. Keputusan ini disebut sebagai bentuk dukungan terhadap kebijakan luar negeri AS dan keamanan nasional, dengan menekankan peran Saudi sebagai mitra utama non-NATO dalam menjaga stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi di kawasan Teluk. Pernyataan resmi menyoroti pentingnya kerja sama militer untuk memperkuat kapasitas pertahanan negara yang menjadi poros keamanan regional.

Penjualan senjata ini dipimpin oleh BAE Systems sebagai kontraktor utama. Langkah tersebut diambil di tengah eskalasi konflik antara pasukan Houthi di Yaman dan Arab Saudi. Pada 13 Juli, gerakan Houthi melancarkan serangan rudal ke arah wilayah selatan Saudi, menargetkan bandara internasional di Abha, ibu kota provinsi pegunungan yang berbatasan langsung dengan Yaman. Serangan ini dinyatakan sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata yang berlaku sejak Maret 2022.

Pihak koalisi militer pimpinan Saudi menyatakan berhasil mencegat rudal-rudal yang diluncurkan oleh milisi Houthi. Sementara itu, juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengonfirmasi bahwa target serangan adalah fasilitas strategis di Abha, yang menjadi tujuan banyak warga Saudi untuk menghindari cuaca panas musim tinggi. Serangan tersebut menjadi yang pertama kali diklaim Houthi terhadap wilayah Saudi sejak gencatan senjata informal diberlakukan.

Sebelumnya, pada hari yang sama, Houthi menuduh Arab Saudi melakukan serangan udara terhadap bandara internasional Sanaa, yang dikuasai oleh kelompok tersebut. Mereka menyebut aksi itu sebagai "agresi terang-terangan" dan menyatakan berhenti dari kebijakan de-eskalasi. Houthi juga mengancam akan menutup akses udara bagi maskapai penerbangan yang melintasi wilayah Saudi hingga blokade terhadap bandara Sanaa dicabut. Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, yang didukung Riyadh, menegaskan bahwa landasan pacu di Sanaa disasar untuk mencegah pesawat Iran mendarat, yang dianggap sebagai pelanggaran kedaulatan.

Pihak militer Yaman menyatakan akan menanggapi setiap pesawat asing yang melanggar wilayah udara negara dengan segala cara yang tersedia, termasuk menyalahkan Iran atas insiden tersebut. Dalam pernyataan terpisah, disebutkan bahwa pesawat yang dimaksud kemungkinan besar mendarat di Hodeidah, wilayah yang dikuasai Houthi dan berjarak sekitar 150 km dari Sanaa. Tidak ada informasi lebih lanjut mengenai upaya pencegahan mendarat di wilayah tersebut.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya