AS Siarkan Langsung Eksekusi Terdakwa Terorisme
Pemerintah AS memutuskan menayangkan secara langsung eksekusi Nidal Hasan, pelaku penembakan di Fort Hood, sebagai bentuk peringatan terhadap tindakan terorisme.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 14 Oktober 2026, 17.42 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 151x dibuka
📷 BBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Pemerintah Amerika Serikat telah mengumumkan rencana menayangkan secara daring eksekusi terhadap Nidal Hasan, mantan tentara yang divonis bersalah atas penembakan di pangkalan militer Fort Hood, Texas, pada 2009. Eksekusi yang akan dilakukan dengan regu tembak pada bulan Desember ini bakal disiarkan secara langsung melalui platform digital, menandai langkah kontroversial dalam praktik hukuman mati di negara demokrasi paling berpengaruh di dunia. Keputusan ini diambil sebagai bagian dari pendekatan pemerintah dalam menekankan konsekuensi serius atas tindakan terorisme, sekaligus menjadi bentuk peringatan publik.
Pemilihan metode eksekusi terbuka ini menciptakan kegaduhan di kalangan akademisi dan aktivis hak asasi manusia. Michael Radelet, pakar hukuman mati dari University of Colorado, menyatakan keheranan terhadap kembali munculnya praktik publik yang pernah ditinggalkan lebih dari setengah abad lalu. Ia menekankan bahwa dukungan terhadap hukuman mati telah menurun signifikan sejak puncaknya pada 1994, kini hanya mencapai 52 persen, dengan kebanyakan publik lebih memilih hukuman penjara seumur hidup tanpa peluang pembebasan bersyarat.
Sonya Lea, penulis buku tentang eksekusi publik terakhir di AS, menyampaikan kekhawatiran mendalam atas rencana ini. Ia menggambarkan peristiwa eksekusi Rainey Bethea pada 1936 di Owensboro, Kentucky—yang pernah menjadi tontonan massal bagi puluhan ribu orang—sebagai karnaval kebrutalan yang memalukan sejarah negara. Ia menyayangkan bahwa teknologi modern kini memungkinkan eksekusi dilakukan secara global dan instan, menjangkau jutaan penonton, jauh melampaui batas ruang fisik yang pernah terjadi pada masa lalu.
Dalam konteks politik saat ini, sejumlah pakar menyebut bahwa keputusan tersebut mungkin dipengaruhi oleh dinamika polarisasi dan retorika kebijakan yang memperkuat sentimen keras terhadap ancaman terorisme. Kurt Gray dari Ohio State University menilai bahwa meski tidak semua warga AS mendukung eksekusi terbuka, sebagian besar mungkin telah kehilangan sensitivitas terhadap bentuk kekerasan negara. Baginya, keputusan ini bukan sekadar kebijakan hukum, melainkan simbol pergeseran nilai dalam masyarakat yang mulai menoleransi tindakan represif sebagai bentuk keadilan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Operasi Narkoba Jayapura Gagalkan Peredaran Ganja dan Amankan Senjata Ilegal
Operasi gabungan di Jayapura menyita 10 kilogram ganja, senjata api, dan senjata tajam, serta menangkap 10 orang, termasuk warga negara Papua Nugini.
24 Oktober 2026

Pengadilan Niaga Batalkan Sanksi KPPU ke 97 Pinjol
Pengadilan Niaga Jakarta Pusat membatalkan putusan KPPU terhadap 97 penyelenggara pinjaman daring karena dinilai melanggar doktrin tindakan negara dan tidak memenuhi kriteria pasar bersangkutan.
24 Oktober 2026

Presiden Korea Selatan Buka Pintu Debat Politik Lewat AI
Presiden Lee Jae Myung memicu kontroversi dengan mengacu pada respons AI Gemini untuk membela kehadiran kepala lembaga investigasi dalam rapat kabinet, memicu reaksi keras dari oposisi.
24 Oktober 2026

Perlu Kajian Mendalam Usulan Perubahan Definisi Korupsi
Menteri Koordinator Hukum menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap wacana perubahan definisi korupsi yang disampaikan Dewan Ekonomi Nasional.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

Pezeshkian dan Putin Bahas Kerja Sama Ekonomi dan Geopolitik di Moskow
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.55 WITA

Pemerintah Bangun 66 Hunian Tetap untuk Korban Bencana di Lhokseumawe
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.54 WITA

Festival Jajanan Bango 2026 Dorong Pertumbuhan UMKM Kuliner
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

AsetKu Perkuat Literasi Keuangan Digital di Jakarta
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Nex Carlos Jajal Inovasi Kuliner Lokal di FJB 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Ekspor Kecap Indonesia Tembus 18,81 Juta Dolar AS hingga Agustus
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Produk UMKM Ramah Lingkungan Siap Eksplorasi Pasar Global
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Panas atau Dingin, Apakah Suhu Kopi Pengaruhi Kesehatan?
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.49 WITA

