Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

ASEAN Dorong Kolaborasi Inklusif di Indo-Pasifik

Sekjen ASEAN tekankan pentingnya kerja sama berbasis aturan untuk jaga stabilitas dan ketahanan kawasan di tengah dinamika geopolitik global.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 21.07 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
ASEAN Dorong Kolaborasi Inklusif di Indo-Pasifik📷 Tempo

Kendari, ıNarasikita - Sekjen ASEAN Kao Kim Hourn menegaskan perlunya kawasan Indo-Pasifik tetap menjadi ruang diskusi yang terbuka dan inklusif, menghindari polarisasi akibat ketegangan antarkekuatan besar. Dalam kesempatan peluncuran rangkaian kuliah pertama ERIA-ASEAN AOIP di Jakarta, ia menyoroti pentingnya menjaga keberlanjutan kerja sama lintas mitra tanpa kehilangan otonomi strategis ASEAN. Pendekatan ini, menurutnya, tercermin dalam ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP), sebagai kerangka kerja sama yang berbasis aturan dan terbuka bagi semua pihak.

Kao menekankan bahwa tantangan global seperti ketegangan geopolitik, fragmentasi ekonomi, dan gangguan rantai pasokan maritim mendorong perlunya penguatan kolaborasi di bidang infrastruktur berkelanjutan, transformasi digital, serta keamanan ekonomi. Ia menilai kerja sama yang nyata dan terukur menjadi kunci menjaga ketahanan kawasan. Capaian kerja sama ASEAN-Jepang yang telah mencapai 81 persen dari agenda aksi bersama menjadi bukti bahwa koordinasi yang intensif dapat menghasilkan manfaat bersama.

Dekan ERIA School of Government Nobuhiro Aizawa menambahkan bahwa stabilitas yang telah terjaga selama ini di Indo-Pasifik harus dipertahankan melalui norma-norma yang dibangun bersama. Ia menekankan perlunya memperkuat pendekatan inklusif dan dialog antar-negara agar kawasan tetap menjadi ruang yang aman dan berkelanjutan. Peringatan 10 tahun Indo-Pacific Free and Open (FOIP) menjadi momen strategis untuk mengevaluasi sinergi antara visi AOIP dan FOIP dalam mendukung perdamaian dan kemakmuran bersama.

Diskusi dalam simposium khusus yang menghadirkan para pakar dan pejabat kebijakan menyoroti sejumlah isu krusial, termasuk keamanan siber dan dinamika geo-ekonomi. Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Nasional Kamboja Chheang Vannarith menyatakan bahwa kepercayaan publik terhadap ekosistem digital sangat tergantung pada keamanan siber yang kuat. Ia menekankan perlunya integrasi antara pengembangan ekonomi digital dan perlindungan siber. Di sisi lain, Maria Monica Wihardja dari ISEAS-Yusof Ishak Institute menilai bahwa perbedaan pendekatan antara AOIP dan FOIP justru bisa menjadi pemicu sinergi dalam mencapai tujuan ekonomi regional.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya