Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Banjir Bandang Dahsyat di Perbatasan Nepal-Tibet Tewaskan Ratusan Orang

Bencana banjir bandang akibat runtuhnya gletser di perbatasan Nepal-Tibet menewaskan 469 orang dan menyebabkan 910 orang hilang, termasuk ratusan wisatawan asing.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 20.56 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
Banjir Bandang Dahsyat di Perbatasan Nepal-Tibet Tewaskan Ratusan Orang📷 BBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Peristiwa bencana alam yang melanda wilayah perbatasan Nepal dan Tibet pada hari Rabu (26 Agustus) menimbulkan dampak luar biasa, dengan aliran lumpur dan material longsoran menghancurkan permukiman dan infrastruktur di Distrik Rasuwa dan Nuwakot. Seorang warga bernama Keshav Prasad Baral, berusia 68 tahun, menjadi salah satu korban yang masih dirawat di rumah sakit kecil setelah kehilangan istrinya dalam terjangan lumpur yang tak terduga. Ia menyebut istrinya terseret arus dan kini belum ditemukan, menggambarkan kehancuran yang menimpa keluarganya dalam sekejap.

Data terkini menunjukkan jumlah korban tewas mencapai 469 jiwa, dengan 910 orang lainnya masih dalam status hilang, termasuk sekitar 517 wisatawan asing. Di wilayah Gyirong, Tiongkok, otoritas melaporkan 558 orang—termasuk 260 warga negara asing—belum ditemukan. Awalnya, pemerintah Nepal menyebut gempa bumi magnitudo 4,4 sebagai penyebab potensial, namun penelitian dari Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menegaskan bahwa peristiwa tersebut bukan gempa, melainkan hasil dari runtuhnya gletser yang diikuti longsoran material.

Analisis dari Departemen Hidrologi dan Meteorologi Nepal menunjukkan adanya massa es besar yang jatuh dari lereng gunung di sisi Tibet, kemudian meluncur cepat menuruni lereng bersama batu dan sedimen. Meski sempat muncul dugaan adanya bendungan alami yang terbentuk di Sungai Lhende, bukti empiris belum mendukung teori ini. Ahli kajian bencana dari Universitas Tribhuvan, Basanta Raj Adhikari, menegaskan tidak ada indikasi penurunan debit air sebelum bencana, yang biasanya menjadi tanda adanya penyumbatan. Ia menyatakan kemungkinan besar banjir terjadi langsung akibat longsoran es dan batu yang dipicu oleh keruntuhan gletser.

Para ilmuwan menyatakan perubahan iklim menjadi faktor pendorong utama ketidakstabilan lingkungan pegunungan tinggi. Pemanasan global menyebabkan permafrost—lapisan tanah beku permanen—mencair dan mengalami degradasi, melemahkan struktur lereng gunung. Sebagaimana dikemukakan Simon Cook dari University of Dundee, kejadian serupa telah terjadi di wilayah Himalaya, Swiss, dan Dolomites, menandai tren global. Data PBB tahun 2023 menunjukkan Nepal kehilangan hampir sepertiga volume esnya dalam tiga dekade terakhir, dengan laju pencairan gletser meningkat 65% dibandingkan periode sebelumnya.

Wilayah perbatasan Nepal-Tibet secara struktural rentan terhadap bencana berantai, karena kombinasi lereng curam, gletser luas, dan aliran sungai cepat dari Dataran Tinggi Tibet. Kondisi ini menciptakan potensi interaksi kompleks antara hujan deras, longsor, runtuhnya gletser, dan jebolnya bendungan alami. Meskipun bencana seperti longsoran atau runtuhnya gletser tidak dapat dicegah sepenuhnya, dampaknya dapat diminimalisasi melalui sistem peringatan dini yang lebih efektif di daerah rawan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya