Senin, 26 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Banjir Bandang Himalaya Tewaskan 586 Orang, 2.478 Masih Hilang

Bencana banjir bandang dan longsoran gletser di wilayah perbatasan Nepal-China menewaskan 586 orang, dengan lebih dari 2.400 orang masih hilang, termasuk pekerja pembangkit listrik dan peziarah.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 20.46 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
Banjir Bandang Himalaya Tewaskan 586 Orang, 2.478 Masih Hilang📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Bencana alam berupa banjir bandang dan longsoran gletser yang melanda kawasan Himalaya di perbatasan Nepal dan China pada Rabu (26/8) telah menimbulkan kerusakan besar dan menelan korban jiwa yang terus bertambah. Hingga Jumat (28/8) malam, jumlah korban tewas mencapai 586 jiwa, sebagian besar ditemukan terseret arus hingga ke wilayah India. Sementara itu, lebih dari 2.400 orang masih dilaporkan hilang, termasuk 933 pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air yang sedang bekerja di area terdampak, serta para pendaki dan peziarah yang menuju Gunung Kailash di Tibet.

Tim penyelamat terus berupaya menemukan korban selamat dan mengevakuasi mereka dari lokasi yang terisolasi, namun kondisi medan yang sulit memperlambat akses. Banyak permukiman di sekitar sungai telah lenyap terbawa banjir, menyisakan reruntuhan dan tanah longsor yang menghalangi jalur evakuasi. Salah seorang korban selamat, Buddhi Ram Dangol, menggambarkan kehancuran yang menimpa kampungnya: “Semua rumah dan kehidupan di dekat sungai telah hilang. Tidak ada yang tersisa.”

Di wilayah Trishuli 3A, militer Nepal berhasil menemukan puluhan pekerja yang terjebak di dalam terowongan proyek pembangkit listrik. Dua helikopter dikerahkan untuk mengevakuasi mereka, namun proses ini terhambat oleh kesulitan menemukan titik masuk yang aman. Hingga saat ini, sekitar 350 orang telah dievakuasi, sementara lebih dari 100 lainnya masih terjebak. Buddha Tamang, salah satu korban yang selamat, menyebut bahwa dirinya selamat karena sedang berada di dalam terowongan saat banjir melanda, sementara petugas senior di sisi lain terbawa arus.

Kekhawatiran terhadap banjir susulan terus menghantui operasi penyelamatan. Di wilayah Tibet, otoritas China sempat menghentikan sementara upaya pencarian karena ancaman jebolnya bendungan air yang terbentuk akibat longsoran. Kondisi ini membuat tim darurat harus bergerak cepat untuk mengevakuasi korban sebelum terjadi bencana lanjutan. Di sisi Nepal, otoritas memperingatkan seluruh tim penyelamat untuk segera pindah ke lokasi aman menyusul laporan jebolnya bendungan kembali di sisi Tibet.

Beberapa negara telah menawarkan bantuan kemanusiaan, termasuk Kanada yang menyiapkan dana senilai US$3,6 juta (sekitar Rp63,9 miliar) dan Uni Eropa yang menjanjikan bantuan sebesar US$2,3 juta (sekitar Rp40,8 miliar). Meski demikian, upaya pencarian dan evakuasi tetap menghadapi tantangan besar karena medan yang terus berubah dan risiko longsor berulang.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya