Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Bank Sentral Korsel Pertahankan Suku Bunga di 3%

Bank sentral Korsel mempertahankan suku bunga acuan di 3% pada Oktober 2026, menyusul inflasi tahunan yang masih tinggi sebesar 2,9% dan pertumbuhan ekonomi yang didorong ekspor semikonduktor.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 22 Oktober 2026, 12.01 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 38x dibuka
Bank Sentral Korsel Pertahankan Suku Bunga di 3%📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Bank of Korea (BOK) memutuskan untuk tidak mengubah tingkat suku bunga acuan pada pertemuan kebijakan moneter terbaru, tetap mempertahankannya di level 3% pada Kamis, 22 Oktober 2026. Keputusan ini diambil meskipun inflasi negara itu masih berada di atas target resmi sebesar 2%, tercatat mencapai 2,9% secara tahunan pada bulan September. Penahanan suku bunga ini sesuai dengan proyeksi ekonom dari survei Reuters, namun tetap menimbulkan pertanyaan mengenai arah kebijakan moneter ke depan, mengingat tekanan harga belum mereda.

Pertumbuhan ekonomi Korsel menunjukkan ketahanan yang kuat, didorong oleh lonjakan ekspor semikonduktor, khususnya chip yang mendukung pengembangan kecerdasan buatan. Pada September 2026, ekspor semikonduktor membukukan kenaikan tahunan sebesar 262%, sementara total ekspor nasional melonjak 83,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja ekspor ini menjadi faktor penopang utama pertumbuhan PDB, yang tumbuh 3,8% di kuartal I dan 3,7% di kuartal II 2026, melampaui perkiraan pasar.

Dengan kondisi ekonomi yang bergerak positif, bank sentral dihadapkan pada tantangan keseimbangan antara menekan inflasi dan tidak menghambat momentum pertumbuhan. Meski suku bunga tetap stabil, analis dari ING menekankan bahwa penahanan kebijakan ini belum menandakan berakhirnya siklus pengetatan moneter. Inflasi yang masih melampaui target dan tekanan harga yang berkelanjutan memastikan bahwa kebijakan akan tetap diawasi ketat.

Di sisi lain, pemerintah Korsel, yang dipimpin Presiden Lee Jae Myung, telah menekankan pentingnya meningkatkan pasokan perumahan sebagai bagian dari upaya stabilisasi ekonomi domestik. Kebijakan sektor perumahan menjadi fokus utama pemerintah meskipun keputusan suku bunga tetap harus mempertimbangkan dinamika inflasi dan kinerja ekonomi secara keseluruhan. Proyeksi IMF terhadap pertumbuhan ekonomi Korsel sepanjang 2026 tetap optimistis di angka 3,3%, menunjukkan prospek ekonomi yang solid meski di tengah tekanan moneter.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya