Rabu, 23 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Bantul Catat Rekor 131 Hari Tanpa Hujan Akibat El Nino 2026

Kabupaten Bantul mencatat durasi tanpa hujan terpanjang di Indonesia sepanjang 131 hari akibat dampak El Nino kuat, memperparah kondisi kekeringan di 25 provinsi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 22 September 2026, 23.03 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 2x dibuka
Bantul Catat Rekor 131 Hari Tanpa Hujan Akibat El Nino 2026📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi satu-satunya wilayah di Indonesia yang mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) terpanjang selama periode El Nino 2026, dengan catatan 131 hari tanpa curah hujan. Fenomena ini menandai kondisi kekeringan meteorologis ekstrem yang meluas hingga menjangkau 25 provinsi di seluruh wilayah tanah air. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengungkapkan bahwa kondisi ini dipicu oleh anomali suhu permukaan laut yang mencapai +2,63 pada wilayah Nino 3.4, menunjukkan intensitas El Nino kategori sangat kuat.

Berdasarkan pemantauan, sebanyak 556 Zona Musim (ZOM) atau setara 61,91 persen dari total daratan Indonesia masih berada dalam fase kemarau panjang. Bahkan, dari 110 ZOM yang sebelumnya dikategorikan basah sepanjang tahun, 98 di antaranya kini berubah menjadi zona kemarau akibat tekanan iklim dari El Nino 2026. Hal ini menunjukkan perubahan pola musim yang signifikan, memengaruhi ketersediaan air, pertanian, dan kehidupan masyarakat di berbagai daerah.

Meskipun El Nino diperkirakan akan berlangsung hingga kuartal pertama 2027, BMKG memproyeksikan penurunan dampak kekeringan ekstrem seiring masuknya awal musim hujan secara bertahap. Perkiraan awal musim hujan dimulai pada November 2026 dengan 185 ZOM atau 24,66 persen luas daratan, disusul pada Desember 2026 mencapai 266 ZOM atau 17,31 persen. Secara keseluruhan, akumulasi curah hujan di 510 ZOM (69,76 persen daratan) diperkirakan berada pada kategori normal meski kedatangannya terlambat.

Puncak musim hujan diperkirakan terjadi secara bergelombang, dimulai dari Desember 2026 di 155 ZOM (36,94 persen daratan), dilanjutkan Januari 2027 di 162 ZOM (25,68 persen), dan puncak akhir Februari 2027 di 190 ZOM (16,79 persen). Proyeksi ini menjadi acuan penting bagi sektor pertanian, kesehatan, dan manajemen sumber daya air untuk menyesuaikan strategi adaptasi terhadap perubahan iklim yang sedang berlangsung.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya