Rabu, 23 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Perang Dunia Kini Turun ke Dasar Laut

Ancaman terhadap infrastruktur bawah laut mendorong negara-negara memperkuat pengawasan dengan teknologi drone otonom dan sistem deteksi canggih.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 22 September 2026, 23.01 WITA·👁 2 orang membaca· 1 hari ini · 4x dibuka
Perang Dunia Kini Turun ke Dasar Laut📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kemajuan militer global kini bergerak ke wilayah yang selama ini diabaikan: dasar laut. Di tengah meningkatnya ancaman sabotase dan perang hibrida, negara-negara mulai memperhatikan kembali keamanan infrastruktur bawah permukaan laut, termasuk kabel komunikasi, pipa energi, dan jaringan listrik. Perubahan ini muncul sebagai respons terhadap kerentanan strategis yang terbukti dalam insiden seperti ledakan pipa gas Nord Stream pada 2022, yang diduga disebabkan oleh tindakan sengaja. Sejumlah kejadian serupa di wilayah Arktik dan sekitar Taiwan semakin memperjelas risiko yang mengintai di bawah permukaan laut.

Kini, sekitar 1,5 juta kilometer kabel komunikasi bawah laut menjadi tulang punggung globalisasi digital. Infrastruktur ini tidak hanya mendukung internet internasional, tetapi juga transmisi energi dari sumber terbarukan di laut. Ketergantungan ekonomi yang tinggi membuat keamanan wilayah bawah laut menjadi prioritas strategis. Menurut para ahli, kerentanan ini telah lama terabaikan, sehingga perlu segera diperbaiki dengan pendekatan baru yang lebih proaktif dan berkelanjutan.

Dalam upaya menjaga wilayah kritis, teknologi drone otonom mulai menjadi kunci. Perusahaan seperti Euroatlas mengembangkan kendaraan bawah laut seperti GrayShark yang mampu menjalankan misi tanpa kontrol langsung manusia. Kendaraan ini dapat mendeteksi objek mencurigakan, seperti ranjau atau gangguan pada pipa, serta melaporkan temuan secara real time. Dengan kemampuan navigasi otomatis dan ketahanan terhadap rintangan, drone ini memungkinkan pemantauan berkelanjutan di area yang sulit dijangkau oleh kapal atau pesawat.

Investasi besar pun mulai mengalir. Perusahaan Italia Fincantieri mengumumkan rencana akuisisi senilai US$689 juta untuk memperkuat kapasitas di bidang drone bawah laut, survei kelautan, dan komunikasi bawah air. Tujuannya adalah memanfaatkan pengalaman lebih dari seratus tahun dalam pembuatan kapal selam untuk membangun sistem pertahanan bawah laut generasi baru. Di sisi lain, perusahaan pertahanan Prancis Thales juga mengembangkan sistem deteksi sonar dan antikapal selam canggih.

Kemajuan ini membuka kemungkinan munculnya konflik otomatis di dasar laut, di mana drone militer saling melacak dan mengidentifikasi ancaman tanpa intervensi manusia. Meski demikian, tidak ada indikasi bahwa drone akan menggantikan kapal berawak sepenuhnya. Armada masa depan diperkirakan akan menggabungkan sistem otonom dan berawak, di mana drone berperan sebagai mata-mata terus-menerus, sementara kapal atau personel siap bertindak jika ditemukan ancaman nyata.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya