Rabu, 23 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Kawah Baru di Bulan Terbentuk Akibat Tumbukan Abaduan

Temuan kawah baru berdiameter 222 meter di Bulan, hasil benturan asteroid atau komet, menjadi perhatian ilmuwan karena dampaknya yang luas dan signifikan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 22 September 2026, 23.02 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Kawah Baru di Bulan Terbentuk Akibat Tumbukan Abaduan📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Satelit pengorbit Bulan milik NASA mengungkap adanya kawah baru yang terbentuk akibat tumbukan asteroid atau pecahan komet pada periode April hingga Mei 2024. Kawah ini, yang diberi nama McGetchin, memiliki lebar mencapai 222 meter dan kedalaman sekitar 43 meter, menjadikannya kawah tumbukan terbesar yang pernah diidentifikasi di tata surya. Kejadian tersebut diperkirakan terjadi hanya sekali dalam satu abad, menunjukkan langkanya peristiwa sejenis di permukaan Bulan.

Temuan ini pertama kali muncul saat ilmuwan membandingkan data citra dari Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) sebelum dan sesudah periode 2024. Hasil analisis menunjukkan bahwa kawah baru ini terbentuk antara 11 April dan 22 Mei tahun yang sama. Dua studi yang diterbitkan secara bersamaan dalam jurnal Science Advances pada 16 September mengungkapkan bahwa dampak tumbukan tidak hanya terbatas pada bentuk kawah, tetapi juga membentuk area lontaran material hingga jarak sekitar 7 kilometer di sekitarnya.

Pemantauan dari Diviner Lunar Radiometer LRO mengungkapkan adanya anomali termal di sekitar kawah, dengan area dingin selebar 7 kilometer yang menunjukkan perbedaan suhu hingga 9 hingga 10 derajat Celsius dibandingkan dengan wilayah sekitarnya. Perbedaan suhu ini disebabkan oleh perubahan struktur regolit akibat benturan, yang mengurangi kepadatan tanah dan memengaruhi kemampuan menyerap panas. Peneliti menyatakan bahwa fenomena ini memberikan wawasan penting tentang bagaimana tumbukan memodifikasi permukaan dan sifat fisik tanah Bulan.

Lokasi kawah McGetchin di perbatasan antara dataran rendah berbatu dan dataran tinggi lebih terang memungkinkan ilmuwan mempelajari dampak tumbukan pada dua lingkungan geologis berbeda. Karena kebanyakan kawah di Bulan sudah terdegradasi oleh waktu dan aktivitas lain, kawah ini menjadi contoh langka dari bentukan yang masih dalam kondisi alami. Hal ini sangat berharga untuk memahami proses evolusi permukaan Bulan dan membantu perencanaan misi pendaratan serta eksplorasi berawak di masa depan.

Menurut Tyler Powell, penulis utama studi, pengamatan dari permukaan akan menjadi kunci untuk memahami detail kecil seperti distribusi material lontaran dan perubahan tekstur permukaan. Dengan data langsung dari rover atau misi berawak, ilmuwan dapat menghubungkan informasi dari orbit dengan kondisi fisik secara real-time. Pemahaman ini penting untuk merancang peralatan yang mampu beroperasi efektif di permukaan Bulan yang terpengaruh oleh tumbukan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya