Rabu, 23 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Transformasi Digital Pemerintah: Belajar dari Singapura, Estonia, dan UEA

Indonesia tengah mempercepat transformasi digital pemerintahan dengan fokus pada integrasi layanan dan kepercayaan publik, meneladani pendekatan komunikasi dari negara maju.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 22 September 2026, 21.10 WITA·👁 2 orang membaca· 1 hari ini · 4x dibuka
Transformasi Digital Pemerintah: Belajar dari Singapura, Estonia, dan UEA📷 Sindonews

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah Indonesia kini bergerak secara strategis dalam membangun sistem layanan digital nasional yang terintegrasi, berlandaskan Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2023. Aturan ini menjadi fondasi utama untuk menghilangkan fragmentasi layanan yang selama ini menghambat efisiensi dan kenyamanan masyarakat. Tujuan utamanya bukan sekadar memindahkan proses ke platform digital, melainkan menciptakan ekosistem pemerintahan yang responsif, inklusif, dan berbasis data yang dapat diakses secara terpadu.

Dalam perjalanan tersebut, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pada Juli 2026, pemerintah harus mampu menghilangkan tumpang tindih aplikasi dan mengurangi beban pengisian data berulang oleh warga. Pernyataan ini menyoroti bahwa keberhasilan transformasi digital tidak diukur dari jumlah aplikasi yang diluncurkan, melainkan dari sejauh mana layanan mampu memudahkan kehidupan sehari-hari tanpa membebani masyarakat. Di sinilah peran komunikasi publik menjadi kunci utama.

Negara-negara seperti Singapura menunjukkan bahwa pendekatan terbaik bukan dengan memperkenalkan teknologi secara teknis, melainkan dengan menyampaikan visi yang manusiawi. Pada 2014, Perdana Menteri Lee Hsien Loong menggambarkan Smart Nation bukan sebagai proyek infrastruktur, melainkan sebagai upaya menjadikan teknologi sebagai alat untuk meningkatkan kualitas hidup, produktivitas, dan keterlibatan warga. Pesan ini berhasil mengubah persepsi publik: teknologi bukan tujuan, melainkan sarana untuk mewujudkan kehidupan yang lebih bermakna.

Di Estonia, keberhasilan digital tidak didasarkan pada kecanggihan teknologi semata, melainkan pada kepercayaan yang dibangun secara konsisten selama puluhan tahun. Presiden Alar Karis menegaskan bahwa sistem digital yang kuat dibangun dari prinsip transparansi, penggunaan data yang terbatas, serta kewenangan yang jelas. Konsep "once-only" menjadi fondasi: warga hanya perlu memberikan data sekali, dan instansi lain bisa mengaksesnya secara aman. Hal ini membangun kepercayaan bahwa pemerintah tidak hanya mengumpulkan data, tetapi memanfaatkannya dengan tanggung jawab.

Uni Emirat Arab menawarkan model lain: pendekatan proaktif. Alih-alih menunggu warga datang ke kantor pemerintah, layanan digital dikembangkan dengan pendekatan mendatangi masyarakat. Ini mencerminkan komitmen untuk memahami kebutuhan rakyat sebelum menyediakan solusi. Keberhasilan transformasi digital di tiga negara ini menunjukkan bahwa kunci utamanya bukan teknologi, melainkan kemampuan pemerintah dalam menyampaikan visi, membangun kepercayaan, dan menempatkan manusia sebagai pusat perubahan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya