Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

BBM Satu Harga Jaga Stabilitas Ekonomi di Daerah 3T Mahakam Ulu

Program BBM satu harga memastikan pasokan bahan bakar stabil di Mahakam Ulu, meski jalur sungai terganggu, mendukung roda ekonomi warga secara merata.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 25 Oktober 2026, 17.55 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
BBM Satu Harga Jaga Stabilitas Ekonomi di Daerah 3T Mahakam Ulu📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Di tengah kondisi musim kemarau yang mengganggu jalur sungai, distribusi BBM satu harga di Kabupaten Mahakam Ulu tetap berjalan lancar melalui jalur darat. Meskipun akses jalan masih berupa tanah dengan kondisi berdebu saat kering dan becek saat hujan, sistem logistik tetap beroperasi untuk menjamin ketersediaan bahan bakar di wilayah terpencil. Pemantauan stok dilakukan dari gudang di Ujoh Bilang, Long Bagun, yang menjadi titik awal pengiriman menuju Long Pahangai sejauh 160 kilometer.

Pengiriman harian menggunakan mobil berkapasitas sekitar 1.000 liter menjadi solusi utama saat sungai surut. Meski volume lebih rendah dibandingkan pengiriman perahu saat musim hujan—yang bisa mengangkut 6.000 hingga 8.000 liter per kali jalan—keteraturan distribusi tetap terjaga. Frekuensi pengiriman diatur secara rutin agar warga tidak mengalami kekurangan pasokan, terutama untuk kebutuhan transportasi perahu dan aktivitas pertanian.

Harga BBM di wilayah 3T ini sama dengan kawasan perkotaan: biosolar Rp6.800 per liter, pertalite Rp10.000 per liter, dan dexlite Rp24.200 per liter. Kebijakan ini memberikan perlindungan ekonomi bagi masyarakat, menekan biaya operasional rumah tangga, transportasi hasil pertanian, dan kegiatan perkebunan. Tanpa kebijakan ini, warga harus menanggung biaya angkut yang jauh lebih tinggi, yang dapat menggerus pendapatan dan daya beli.

Pembagian jatah BBM dilakukan secara adil berdasarkan jarak tempuh warga. Warga yang tinggal lebih jauh dari pusat kecamatan mendapat alokasi lebih besar—20 liter atau lebih—dibandingkan yang berada dekat dengan titik distribusi, yang hanya menerima 5 hingga 10 liter. Warga dengan jarak menengah mendapat 10 hingga 20 liter. Pendekatan ini menjamin keadilan dalam distribusi, sekaligus mengakomodasi beban transportasi yang lebih tinggi di wilayah terpencil.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya