Kamis, 24 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

BI Pertahankan Suku Bunga Hingga Akhir 2026, ADB Soroti Stabilitas Eksternal

Asian Development Bank memprediksi Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan hingga akhir 2026 demi menjaga stabilitas harga dan nilai tukar rupiah.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 24 September 2026, 09.00 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
BI Pertahankan Suku Bunga Hingga Akhir 2026, ADB Soroti Stabilitas Eksternal📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan tingkat suku bunga acuan pada posisi 5,75% hingga akhir tahun 2026, sesuai perkiraan Asian Development Bank (ADB) dalam rilis Asian Development Outlook edisi September 2026. Keputusan ini merupakan kelanjutan dari kebijakan yang telah berlangsung empat bulan berturut-turut sejak rapat dewan gubernur Juni 2026, menunjukkan komitmen BI untuk menjaga kehati-hatian dalam pengelolaan kebijakan moneter.

ADB menilai, langkah tersebut diambil sebagai respons terhadap kondisi keuangan global yang tetap ketat serta sensitivitas nilai tukar rupiah terhadap pergerakan arus modal. Dalam konteks itu, BI akan terus fokus pada pengendalian inflasi dan stabilitas nilai tukar, sementara kebijakan likuiditas dan makroprudensial akan dimaksimalkan untuk mendukung aktivitas ekonomi domestik tanpa mengorbankan keseimbangan makroekonomi.

Pertumbuhan kredit perbankan pada bulan Juli 2026 mencatatkan kenaikan sebesar 13,58% secara tahunan, meningkat dari capaian Juni yang sebesar 13,58%. Hingga Agustus, angka ini melonjak menjadi 13,65% (yoy), menunjukkan kembali kekuatan intermediasi keuangan yang stabil. ADB menyebut bahwa kondisi likuiditas yang memadai serta insentif makroprudensial menjadi pendorong utama pertumbuhan kredit, khususnya di sektor investasi dan sektor prioritas.

Pada 2027, ADB memproyeksikan perbaikan eksternal yang bertahap, didorong oleh penurunan inflasi global dan harga energi yang cenderung menurun. Perkembangan ini diharapkan meringankan tekanan inflasi impor serta mendukung pemulihan neraca perdagangan. Ekspor yang didorong oleh komoditas dan barang manufaktur, bersamaan dengan pengurangan biaya impor energi, akan mendorong defisit transaksi berjalan menurun dari puncaknya di triwulan II 2026.

Arus modal asing diperkirakan tetap mengalir stabil, didukung oleh imbal hasil domestik yang kompetitif dan ekspektasi positif terhadap prospek ekonomi Indonesia. Peringkat utang negara yang tetap pada level investasi serta masuknya Indonesia ke dalam indeks MSCI untuk pasar negara berkembang menambah daya tarik investasi. Dengan defisit transaksi berjalan yang terkendali dan arus modal yang berkelanjutan, cadangan devisa diperkirakan tetap cukup untuk menjaga ketahanan neraca pembayaran, membuka ruang bagi kebijakan moneter yang lebih akomodatif pada tahun depan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya