Kamis, 24 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

7 Kebiasaan Sehari-Hari yang Tak Disadari Picu Hipertensi

Banyak orang menganggap makanan sebagai penyebab utama tekanan darah tinggi, padahal sejumlah kebiasaan sehari-hari justru berperan besar dalam memicu kenaikan tekanan darah.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 24 September 2026, 09.17 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka
7 Kebiasaan Sehari-Hari yang Tak Disadari Picu Hipertensi📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Selain asupan makanan, berbagai praktik harian yang kerap diabaikan ternyata berdampak signifikan terhadap kesehatan sirkulasi darah. Kebiasaan seperti tidur kurang dari tujuh jam per hari dapat mengganggu keseimbangan hormon dan memicu respons stres kronis, yang pada akhirnya menaikkan tekanan darah. Gangguan tidur seperti sleep apnea juga dikaitkan dengan peningkatan risiko hipertensi yang sulit dikendalikan.

Stres yang terus-menerus akibat tekanan pekerjaan, masalah finansial, atau konflik hubungan pribadi turut berperan. Hormon kortisol dan adrenalin yang dilepaskan dalam kondisi stres dapat menyempitkan pembuluh darah serta mempercepat detak jantung, keduanya berkontribusi pada kenaikan tekanan darah. Mengelola stres melalui olahraga teratur, istirahat cukup, dan menghindari zat adiktif menjadi langkah penting untuk menjaga keseimbangan sistem kardiovaskular.

Dehidrasi ringan pun bisa menjadi faktor pemicu. Ketika tubuh kekurangan cairan, jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah, yang dapat menyebabkan tekanan darah naik secara sementara. Para ahli menyarankan pria mengonsumsi minimal 3,7 liter air per hari dan wanita sekitar 2,7 liter untuk menjaga fungsi normal sistem peredaran darah.

Beberapa obat dan suplemen yang dianggap aman juga bisa menaikkan tekanan darah. Obat dekongestan, NSAID, kortikosteroid, serta suplemen seperti ginseng, ginkgo, dan akar manis (licorice) perlu dikonsumsi dengan hati-hati. Kafein berlebihan dari kopi dan konsumsi alkohol dalam jumlah besar juga berpotensi memicu kenaikan tekanan darah, baik dalam jangka pendek maupun panjang.

Merokok merupakan kebiasaan lain yang berdampak langsung. Nikotin dalam rokok merangsang sistem saraf simpatik, menyebabkan pembuluh darah menyempit dan tekanan darah naik secara akut. Jika terus dilakukan, merokok menyebabkan kerusakan permanen pada pembuluh darah, membuatnya kaku dan meningkatkan risiko hipertensi jangka panjang.

Terlalu banyak duduk dan kurang aktivitas fisik juga menjadi faktor risiko. Kurang gerak dapat menyebabkan penumpukan lemak, penurunan elastisitas pembuluh darah, dan peningkatan tekanan darah. Sebaliknya, olahraga aerobik rutin seperti berjalan cepat atau bersepeda dapat menurunkan tekanan sistolik dan diastolik rata-rata hingga 5–7 mmHg. Mencegah hipertensi bukan hanya soal menghindari garam atau makanan berlemak, tetapi juga menata kembali kebiasaan harian yang sering dianggap sepele.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya