Rabu, 23 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

KAI Usulkan Impor KRL Bekas Jepang Tutup Kekurangan Sarana

KAI mengusulkan impor KRL bekas Jepang sebagai solusi sementara untuk menutup defisit sarana KRL Jabodetabek akibat keterlambatan produksi dan usia kereta yang sudah tua.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 23 September 2026, 23.27 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
KAI Usulkan Impor KRL Bekas Jepang Tutup Kekurangan Sarana📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Bobby Rasyidin mengusulkan impor kereta rel listrik bekas dari Jepang sebagai langkah penyesuaian mendesak terhadap kekurangan sarana operasional KRL Jabodetabek. Usulan ini disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI, menyusul kondisi kritis di mana jumlah kereta yang tersedia tidak mampu menopang pertumbuhan penumpang yang mencapai 11,3 persen pada semester pertama 2026. Saat ini, jumlah penumpang harian telah melampaui 1,1 juta orang, melebihi asumsi konservatif 1 juta per hari yang menjadi dasar perencanaan.

Kondisi tersebut diperparah oleh usia rata-rata kereta yang telah mencapai lebih dari 41 tahun, sehingga sebagian besar perlu dipensiunkan. Pada 2026, diperkirakan dibutuhkan 105 rangkaian KRL, termasuk cadangan dan perawatan. Namun, pada awal tahun tersebut hanya tersedia 102 trainset, sementara 13 lainnya harus dimasukkan ke dalam konservasi. Selain itu, terdapat keterlambatan serius dalam pengadaan sembilan dari 16 trainset yang seharusnya diproduksi oleh PT Industri Kereta Api (INKA), yang baru menghasilkan tujuh unit beroperasi. Akibatnya, defisit sarana mencapai 22 unit.

KAI juga menarik kembali tujuh rangkaian yang telah beroperasi karena ditemukan fraktur pada komponen rangka bawah, yang termasuk dalam kategori no-go item karena berdampak langsung pada keselamatan. Komponen bermasalah tersebut berasal dari produksi lokal dan batch yang sama, sehingga dilakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh rangkaian yang menggunakan komponen serupa. Proses recall melibatkan pembongkaran coating, uji non-destruktif dengan beban maksimum, penggantian komponen, dan pelapisan ulang. Dua unit telah kembali beroperasi, satu lainnya dirilis empat hari sebelum rapat, dan lima sisanya dijadwalkan selesai hingga 9 Oktober.

Karena keterbatasan kapasitas produksi dalam negeri yang saat ini hanya sekitar tiga trainset per tahun, KAI menilai perlu solusi transisi. Impor KRL bekas Jepang dipilih karena kesesuaian sistem teknis, termasuk lebar jalur, rel, dan sistem listrik aliran atas (LAA), yang identik dengan standar Indonesia. Dibandingkan KRL baru yang membutuhkan waktu 1–2 tahun untuk produksi, KRL bekas dapat diimpor dalam waktu 1–2 bulan dan tetap layak digunakan selama sekitar 10 tahun. Meski memerlukan biaya refurbishment lebih tinggi dan perhatian khusus terhadap suku cadang, impor ini ditujukan sebagai jembatan sementara hingga produksi lokal meningkat.

KAI tetap menjadikan penguatan industri dalam negeri sebagai prioritas utama, termasuk melalui integrasi dengan INKA dan peningkatan kapasitas produksi hingga lebih dari 15 rangkaian per tahun. Namun, dalam jangka pendek, impor KRL bekas menjadi langkah strategis untuk menjaga ketersediaan sarana dan kelancaran layanan. Dengan proyeksi kebutuhan hingga 200 trainset pada 2040 dan 87 unit perlu diganti hingga 2031, KAI menekankan bahwa solusi sementara tidak menggantikan komitmen jangka panjang terhadap kemandirian industri transportasi kereta api nasional.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya