Rabu, 23 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Kredit Perbankan Tumbuh 13,65% di Agustus 2026, Didukung Insentif KLM

Pertumbuhan kredit perbankan mencapai 13,65% tahunan pada Agustus 2026, didorong kredit investasi dan insentif likuiditas makroprudensial yang efektif.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 23 September 2026, 23.27 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kredit Perbankan Tumbuh 13,65% di Agustus 2026, Didukung Insentif KLM📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pertumbuhan kredit perbankan pada Agustus 2026 mencapai 13,65 persen secara tahunan, menunjukkan kebangkitan intermediasi keuangan yang berkelanjutan. Kenaikan ini didorong dominan oleh kredit investasi yang melonjak 25,11 persen, mengungguli kredit modal kerja yang tumbuh 11,45 persen dan kredit konsumsi sebesar 5,07 persen. Peningkatan ini menjadi indikator positif terhadap aktivitas ekonomi yang mulai pulih dengan dukungan likuiditas yang tersedia.

Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa kondisi likuiditas perbankan tetap terjaga, ditopang pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 10,94 persen. Minat penyaluran kredit atau lending appetite yang masih longgar menjadi faktor penunjang utama. Kebijakan makroprudensial akomodatif, khususnya melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), turut mendorong penyaluran kredit secara efisien.

Hingga minggu pertama September 2026, total insentif KLM yang diterima perbankan mencapai Rp461,2 triliun, meningkat dari posisi Agustus yang sebesar Rp446,5 triliun. Dari jumlah tersebut, Rp338,2 triliun disalurkan melalui KLM Financing Channel, sedangkan Rp123 triliun melalui KLM Pendalaman Pasar Uang. Mulai 1 September 2026, skema KLM diperbarui dengan pendekatan lebih selektif, berdasarkan kondisi likuiditas dan struktur portofolio bank, guna memastikan insentif mendorong kredit, bukan hanya akumulasi surat berharga.

Stabilitas sistem perbankan tetap terjaga dengan rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 23,84 persen pada Juli 2026, serta rasio kredit bermasalah (NPL) bruto 2,10 persen dan neto 0,81 persen. Rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) juga berada pada level 23,04 persen. Di sisi lain, transaksi ekonomi digital terus melaju, dengan volume transaksi mencapai 6,11 miliar pada Agustus 2026, tumbuh 40,36 persen dari tahun sebelumnya, didorong dominan oleh mobile banking dan transaksi QRIS yang naik 67,22 persen.

BI-FAST mencatat 549 juta transaksi dengan nilai total Rp1.346 triliun pada Agustus 2026. Destry menegaskan bahwa kebijakan makroprudensial akan terus dioptimalkan untuk mendorong pertumbuhan kredit dan pembiayaan secara sehat, tanpa mengabaikan stabilitas sistem keuangan. Proyeksi penyaluran kredit selama 2026 diperkirakan berada dalam kisaran 8–12 persen, mencerminkan prospek ekonomi yang tetap terkendali dan berkelanjutan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya