Kamis, 24 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Permintaan Renminbi Tembus Rp600 Triliun, BI Siapkan Langkah Strategis

Permintaan mata uang renminbi di Indonesia capai US$41,4 miliar hingga Agustus 2026, didorong pertumbuhan transaksi lokal dalam mata uang asing yang terus melonjak.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 24 September 2026, 09.02 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Permintaan Renminbi Tembus Rp600 Triliun, BI Siapkan Langkah Strategis📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Permintaan terhadap mata uang renminbi (RMB) di pasar dalam negeri mencatatkan rekor baru hingga Agustus 2026, dengan total mencapai 277,5 miliar renminbi atau setara US$41,4 miliar. Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan sebesar 200% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, serta hampir mencapai seluruh proyeksi tahunan yang ditetapkan sebelumnya. Pertumbuhan ini menjadi indikator kuat terhadap meningkatnya keterlibatan ekonomi Indonesia dengan pasar Tiongkok dan mitra dagang strategis lainnya.

Untuk mendukung arus transaksi yang semakin intensif, Bank Indonesia menyiapkan infrastruktur pendukung melalui pengoperasian Renminbi Clearing Bank. Kehadiran lembaga clearing ini diharapkan mampu meningkatkan likuiditas dan mempercepat perputaran mata uang RMB di dalam negeri. Dengan sistem yang efisien, BI meyakini transaksi antar mata uang rupiah dan renminbi akan semakin berkembang, serta menumbuhkan ekosistem keuangan lintas negara yang lebih stabil dan berkelanjutan.

Di samping itu, penggunaan skema transaksi dalam mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT) terus menunjukkan tren positif. Hingga delapan bulan pertama tahun ini, nilai transaksi LCT telah mencapai US$49,4 miliar ekuivalen, hampir dua kali lipat dibandingkan realisasi seluruh tahun 2025 yang sebesar US$25,7 miliar. Proyeksi akhir tahun ini menunjukkan kemungkinan nilai transaksi LCT melampaui dua kali lipat pencapaian tahun sebelumnya, menandakan keberhasilan kebijakan devisa lokal dalam mendukung ketahanan ekonomi.

Peningkatan penggunaan LCT juga menjadi bagian dari strategi penguatan struktur ekonomi nasional di tengah volatilitas pasar global dan ketidakpastian ekonomi internasional. Dengan adanya kerja sama LCT yang telah melibatkan tujuh negara mitra — termasuk Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, Uni Emirat Arab, dan Singapura — Indonesia semakin memperkuat posisinya sebagai aktor ekonomi regional yang mandiri dan berdaya saing tinggi.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya