Permintaan Renminbi Tembus Rp600 Triliun, BI Siapkan Langkah Strategis
Permintaan mata uang renminbi di Indonesia capai US$41,4 miliar hingga Agustus 2026, didorong pertumbuhan transaksi lokal dalam mata uang asing yang terus melonjak.
Redaksi iNarasikita·Kamis, 24 September 2026, 09.02 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Permintaan terhadap mata uang renminbi (RMB) di pasar dalam negeri mencatatkan rekor baru hingga Agustus 2026, dengan total mencapai 277,5 miliar renminbi atau setara US$41,4 miliar. Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan sebesar 200% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, serta hampir mencapai seluruh proyeksi tahunan yang ditetapkan sebelumnya. Pertumbuhan ini menjadi indikator kuat terhadap meningkatnya keterlibatan ekonomi Indonesia dengan pasar Tiongkok dan mitra dagang strategis lainnya.
Untuk mendukung arus transaksi yang semakin intensif, Bank Indonesia menyiapkan infrastruktur pendukung melalui pengoperasian Renminbi Clearing Bank. Kehadiran lembaga clearing ini diharapkan mampu meningkatkan likuiditas dan mempercepat perputaran mata uang RMB di dalam negeri. Dengan sistem yang efisien, BI meyakini transaksi antar mata uang rupiah dan renminbi akan semakin berkembang, serta menumbuhkan ekosistem keuangan lintas negara yang lebih stabil dan berkelanjutan.
Di samping itu, penggunaan skema transaksi dalam mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT) terus menunjukkan tren positif. Hingga delapan bulan pertama tahun ini, nilai transaksi LCT telah mencapai US$49,4 miliar ekuivalen, hampir dua kali lipat dibandingkan realisasi seluruh tahun 2025 yang sebesar US$25,7 miliar. Proyeksi akhir tahun ini menunjukkan kemungkinan nilai transaksi LCT melampaui dua kali lipat pencapaian tahun sebelumnya, menandakan keberhasilan kebijakan devisa lokal dalam mendukung ketahanan ekonomi.
Peningkatan penggunaan LCT juga menjadi bagian dari strategi penguatan struktur ekonomi nasional di tengah volatilitas pasar global dan ketidakpastian ekonomi internasional. Dengan adanya kerja sama LCT yang telah melibatkan tujuh negara mitra — termasuk Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, Uni Emirat Arab, dan Singapura — Indonesia semakin memperkuat posisinya sebagai aktor ekonomi regional yang mandiri dan berdaya saing tinggi.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

7 Kebiasaan Sehari-Hari yang Tak Disadari Picu Hipertensi
Banyak orang menganggap makanan sebagai penyebab utama tekanan darah tinggi, padahal sejumlah kebiasaan sehari-hari justru berperan besar dalam memicu kenaikan tekanan darah.
24 September 2026

Macron Tegaskan Kegagalan Klaim Perdamaian Gaza
Presiden Prancis Emmanuel Macron menolak klaim Trump soal perdamaian Gaza, menekankan tidak ada akses kemanusiaan yang kembali dibuka dan menyoroti kegagalan diplomasi global.
24 September 2026

Prabowo Siapkan Pendidikan Gratis dari TK hingga Kuliah
Pemerintah berencana menerapkan pendidikan gratis di semua jenjang sekolah negeri, mulai dari PAUD hingga perguruan tinggi, dengan penerapan dalam waktu dua hingga empat minggu ke depan.
24 September 2026

Trump Sindir Kesepakatan Inggris soal Chagos
Presiden AS Donald Trump mengecam keras kesepakatan Inggris mengembalikan Kepulauan Chagos ke Mauritius, menyebutnya sebagai langkah strategis yang konyol dan tidak mendukung kepentingan AS.
24 September 2026
Berita Lainnya

Ube: Sumber Karbohidrat Sehat dengan Manfaat Kesehatan Menjanjikan
Kamis, 24 September 2026, 09.30 WITA

Mengurangi Gula Tambahan, Manfaat Nyata untuk Tubuh
Kamis, 24 September 2026, 09.30 WITA

6 Makanan Alami untuk Cegah Rambut Rontok
Kamis, 24 September 2026, 09.18 WITA

Bahaya Aquaplaning Saat Hujan, Ini Langkah Pencegahan Penting
Kamis, 24 September 2026, 09.14 WITA

Blokir STNK Setelah Jual Kendaraan, Ini Langkahnya
Kamis, 24 September 2026, 09.13 WITA

DKI Pertimbangkan CFD Sabtu-Minggu untuk Kurangi Emisi
Kamis, 24 September 2026, 09.13 WITA

Redmi Note 17 Pro Max 5G dan Pro 5G Hadir di Indonesia dengan Pembeda Spesifik
Kamis, 24 September 2026, 09.11 WITA

Sulawesi Tenggara Terdampak Kekeringan Ekstrem Selama 89 Hari
Kamis, 24 September 2026, 09.09 WITA

