Minggu, 13 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

China Ancam Hentikan Pertemuan dengan Trump Jika AS Lanjutkan Kebijakan Tegang

Ancaman dari Presiden China Xi Jinping muncul menyusul ketegangan terbaru dalam hubungan bilateral AS-China, yang menekankan risiko pelanggaran hubungan diplomatik jika kebijakan keras Amerika tetap berlanjut.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 12 September 2026, 19.20 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 5x dibuka

Kendari, ıNarasikita - Ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Tiongkok kembali memuncak setelah Presiden Xi Jinping menyampaikan peringatan tegas terhadap kemungkinan pembatalan pertemuan bilateral dengan Presiden AS Donald Trump. Ancaman ini muncul sebagai respons terhadap kebijakan terbaru Washington yang menekan Tiongkok melalui sanksi ekonomi dan pembatasan teknologi, terutama dalam sektor semikonduktor dan kecerdasan buatan. Xi menegaskan bahwa hubungan kedua negara harus didasarkan pada prinsip saling menghargai, bukan dominasi atau tekanan.

Dalam pernyataan resmi, Xi menekankan bahwa pertemuan antara kedua pemimpin hanya dapat dilaksanakan jika AS menunjukkan keinginan untuk membangun dialog yang seimbang dan menghentikan tindakan yang dianggap mengancam kedaulatan Tiongkok. Ia menyoroti bahwa ketegangan saat ini tidak hanya merugikan kedua belah pihak, tetapi juga berdampak luas terhadap stabilitas ekonomi global. Ancaman pembatalan pertemuan menjadi alat diplomasi yang menunjukkan tingkat keberatan Tiongkok terhadap pendekatan AS yang dianggap tidak konstruktif.

Kementerian Luar Negeri Tiongkok mengungkapkan bahwa kebijakan Amerika telah melanggar prinsip-prinsip multilateralisme dan menimbulkan ketidakpastian di pasar global. Tiongkok menekankan bahwa keberlanjutan hubungan bilateral tidak boleh dipengaruhi oleh kepentingan sepihak, terutama dalam konteks perdagangan, keamanan siber, dan isu-isu strategis lainnya. Pernyataan Xi juga menjadi isyarat bahwa Tiongkok tidak akan menyerah pada tekanan eksternal, meski mengakui pentingnya komunikasi langsung antar pemimpin.

Tujuan utama dari pernyataan tersebut adalah menekankan posisi Tiongkok yang konsisten: memperkuat dialog, menolak hegemoni, dan menuntut penghormatan terhadap kepentingan nasional. Dengan menempatkan pertemuan sebagai syarat, Tiongkok menunjukkan bahwa diplomasi tetap menjadi jalan utama, namun harus dibangun atas dasar kesetaraan. Kini, dunia menantikan respons dari Washington atas peringatan tersebut, yang bisa menentukan arah hubungan global dalam beberapa bulan ke depan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Tonton Videonya

Berita Terkait

Berita Lainnya