Kamis, 17 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

China dan Iran Perkuat Koordinasi Diplomasi di Tengah Tegangan Global

Kunjungan Menlu Iran ke Beijing memperkuat aliansi strategis di tengah ancaman sanksi AS, dengan China menawarkan pendekatan multilateral untuk menekan eskalasi konflik Timur Tengah.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 17 September 2026, 07.34 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
China dan Iran Perkuat Koordinasi Diplomasi di Tengah Tegangan Global📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi tiba di Beijing untuk pertemuan penting dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi, menandai kedua kalinya dalam waktu singkat sejak konflik militer antara AS-Israel dan Iran memanas pada akhir Februari. Pertemuan ini berlangsung di tengah ketegangan geopolitik yang memuncak, menyusul rencana pertemuan puncak antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington akhir bulan ini. Kedua negara menekankan pentingnya dialog lintas blok sebagai solusi alternatif atas krisis regional yang terus mengancam stabilitas global.

Dalam kesempatan sebelumnya di New Delhi, Xi Jinping menyampaikan empat prinsip utama untuk menurunkan ketegangan di Timur Tengah, mencakup penghormatan terhadap kedaulatan negara, kepatuhan terhadap hukum internasional, keseimbangan antara keamanan dan pembangunan, serta prinsip hidup berdampingan secara damai. Meski tidak secara eksplisit menawarkan peran mediasi, inisiatif tersebut direspons positif oleh mantan Menlu Iran Mohammad Javad Zarif, yang menilainya sebagai langkah konstruktif untuk mengurangi tensi. Namun, sejumlah analis, termasuk pakar Universitas Teheran Hamed Vafaei, menyatakan bahwa tafsir terhadap peran mediasi China masih bersifat interpretatif dan belum mencerminkan kebijakan resmi Beijing.

Di sisi lain, tekanan ekonomi dan diplomasi dari Amerika Serikat terus berlanjut. AS, bersama sekutu Eropa, berhasil mendorong Dewan Pengawas Nuklir PBB (IAEA) untuk merujuk kasus Iran ke Dewan Keamanan PBB — langkah pertama dalam dua dekade. Meski proses ini diperkirakan tidak akan berujung pada sanksi baru karena China dan Rusia memiliki hak veto, dampak simbolisnya tetap kuat. Kepala badan nuklir Iran, Mohammad Eslami, bahkan dilarang hadir dalam Konferensi Umum IAEA di Wina akibat penerapan kembali sanksi snapback oleh Eropa. Di samping itu, AS memperkuat blokade maritim di wilayah selatan Iran sebagai bagian dari "Operasi Pengucilan Ekonomi" untuk membatasi akses pasar negara tersebut.

China tetap menjadi mitra utama Iran dalam sektor energi, menjadi pembeli minyak mentah terbesar meskipun terjadi pembatasan. Beijing juga diduga menyediakan akses teknologi militer sensitif, termasuk gambar satelit resolusi tinggi, yang digunakan Iran dalam serangan mematikan terhadap pangkalan militer AS di Yordania. Respons Trump terhadap isu tersebut justru mengejutkan: ia tidak menunjukkan kemarahan, tetapi justru memuji Xi Jinping atas "perilaku yang cukup baik", sambil menyatakan bahwa spionase lintas negara adalah praktik umum yang saling menguntungkan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya