China dan Iran Perkuat Koordinasi Diplomasi di Tengah Tegangan Global
Kunjungan Menlu Iran ke Beijing memperkuat aliansi strategis di tengah ancaman sanksi AS, dengan China menawarkan pendekatan multilateral untuk menekan eskalasi konflik Timur Tengah.
Redaksi iNarasikita·Kamis, 17 September 2026, 07.34 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi tiba di Beijing untuk pertemuan penting dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi, menandai kedua kalinya dalam waktu singkat sejak konflik militer antara AS-Israel dan Iran memanas pada akhir Februari. Pertemuan ini berlangsung di tengah ketegangan geopolitik yang memuncak, menyusul rencana pertemuan puncak antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington akhir bulan ini. Kedua negara menekankan pentingnya dialog lintas blok sebagai solusi alternatif atas krisis regional yang terus mengancam stabilitas global.
Dalam kesempatan sebelumnya di New Delhi, Xi Jinping menyampaikan empat prinsip utama untuk menurunkan ketegangan di Timur Tengah, mencakup penghormatan terhadap kedaulatan negara, kepatuhan terhadap hukum internasional, keseimbangan antara keamanan dan pembangunan, serta prinsip hidup berdampingan secara damai. Meski tidak secara eksplisit menawarkan peran mediasi, inisiatif tersebut direspons positif oleh mantan Menlu Iran Mohammad Javad Zarif, yang menilainya sebagai langkah konstruktif untuk mengurangi tensi. Namun, sejumlah analis, termasuk pakar Universitas Teheran Hamed Vafaei, menyatakan bahwa tafsir terhadap peran mediasi China masih bersifat interpretatif dan belum mencerminkan kebijakan resmi Beijing.
Di sisi lain, tekanan ekonomi dan diplomasi dari Amerika Serikat terus berlanjut. AS, bersama sekutu Eropa, berhasil mendorong Dewan Pengawas Nuklir PBB (IAEA) untuk merujuk kasus Iran ke Dewan Keamanan PBB — langkah pertama dalam dua dekade. Meski proses ini diperkirakan tidak akan berujung pada sanksi baru karena China dan Rusia memiliki hak veto, dampak simbolisnya tetap kuat. Kepala badan nuklir Iran, Mohammad Eslami, bahkan dilarang hadir dalam Konferensi Umum IAEA di Wina akibat penerapan kembali sanksi snapback oleh Eropa. Di samping itu, AS memperkuat blokade maritim di wilayah selatan Iran sebagai bagian dari "Operasi Pengucilan Ekonomi" untuk membatasi akses pasar negara tersebut.
China tetap menjadi mitra utama Iran dalam sektor energi, menjadi pembeli minyak mentah terbesar meskipun terjadi pembatasan. Beijing juga diduga menyediakan akses teknologi militer sensitif, termasuk gambar satelit resolusi tinggi, yang digunakan Iran dalam serangan mematikan terhadap pangkalan militer AS di Yordania. Respons Trump terhadap isu tersebut justru mengejutkan: ia tidak menunjukkan kemarahan, tetapi justru memuji Xi Jinping atas "perilaku yang cukup baik", sambil menyatakan bahwa spionase lintas negara adalah praktik umum yang saling menguntungkan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Prabowo Pertimbangkan Perombakan Kabinet di Masa Pemerintahan Kedua
Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesiapan melakukan reshuffle kabinet menjelang dua tahun kepemimpinannya, dengan fokus pada efisiensi, kompetensi, dan penyelesaian isu strategis seperti pangan, energi, dan kemiskinan ekstrem.
17 September 2026

Pemda Unggul Raih Penghargaan Inovasi Nasional 2025
Delapan pemerintah daerah dari berbagai provinsi meraih penghargaan inovasi nasional atas keberhasilan program pelayanan publik, pengembangan ekonomi lokal, dan penguatan tata kelola pemerintahan berbasis kolaborasi.
17 September 2026

Antrean SPBU di Makassar Disebabkan Oknum Sengaja Modifikasi Tangki
Antrean panjang di SPBU Makassar disebabkan oleh oknum yang memodifikasi tangki kendaraan untuk menyalurkan BBM subsidi secara berlebihan, bukan kelangkaan stok.
17 September 2026

Bahlil Bantah Kaitkan Pemadaman Listrik dengan RKAB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan pemadaman listrik di Sulawesi Selatan dan Kalimantan Tengah bukan akibat kekurangan batu bara dari RKAB, melainkan kondisi alam dan perbaikan infrastruktur.
17 September 2026
Berita Lainnya

Gigi Juga Menua, Ini Cara Menjaganya Sejak Dini
Kamis, 17 September 2026, 07.44 WITA

El Nino Kategori Sangat Kuat Ancam Kestabilan Iklim Sulawesi Tenggara
Kamis, 17 September 2026, 07.37 WITA

ADB Berikan Pinjaman Rp11,49 Triliun Dorong Modernisasi Fiskal Daerah
Kamis, 17 September 2026, 07.35 WITA

Purbaya dan Mutasi Besar di Kemenkeu Dibatalkan
Kamis, 17 September 2026, 07.35 WITA

Pemilu BARMM Berdarah, 3 Tewas dan 15 Luka dalam Kericuhan Pemungutan Suara
Kamis, 17 September 2026, 07.35 WITA

Jaksa Agung Ukraina Dicopot Usai Kabur Saat Dikaitkan Skandal Korupsi
Kamis, 17 September 2026, 07.34 WITA

Investasi Besar Segera Masuk Indonesia, Prabowo Pastikan Realisasi Capai Target
Kamis, 17 September 2026, 07.34 WITA

Thaci Divonis 25 Tahun atas Kejahatan Perang, Aksi Massa Ricuh di Pristina
Kamis, 17 September 2026, 07.33 WITA


