Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

China Kembali Jadi Tujuan Utama Investasi Global

Investasi dana kekayaan negara ke China dan Hong Kong melonjak 190% menjadi US$14,2 miliar dalam sembilan bulan pertama 2026, didorong dominasi modal Timur Tengah.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 22 Oktober 2026, 12.03 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 20x dibuka
China Kembali Jadi Tujuan Utama Investasi Global📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Dalam sembilan bulan pertama tahun 2026, aliran dana kekayaan negara ke China daratan dan Hong Kong mencapai US$14,2 miliar, menunjukkan pemulihan signifikan dari penurunan tajam tahun sebelumnya. Angka ini melonjak 190% dibandingkan total investasi sepanjang 2025, yang sebelumnya turun hingga 54% akibat ketegangan geopolitik dan kekhawatiran terhadap prospek ekonomi China. Kenaikan ini mencerminkan pergeseran sentimen pasar yang kini lebih optimistis terhadap potensi pertumbuhan di kawasan tersebut.

Pendorong utama kenaikan tersebut berasal dari empat dana investasi negara kawasan Teluk, termasuk Public Investment Fund (PIF) Arab Saudi, Abu Dhabi Investment Authority (ADIA), Mubadala, dan Qatar Investment Authority (QIA). Total investasi dari keempat entitas ini mencapai sekitar US$9,9 miliar, atau hampir 70% dari total arus dana ke China dan Hong Kong periode tersebut. PIF menyumbang US$6 miliar, ADIA US$2,5 miliar, Mubadala US$800 juta, dan QIA US$600 juta, menunjukkan keterlibatan strategis dari investor negara Teluk dalam memperbesar eksposur terhadap ekonomi Tiongkok.

Pengamat menilai kepercayaan kembali tumbuh karena China menunjukkan keunggulan dalam manufaktur, bioteknologi, dan inovasi teknologi, khususnya dalam pengembangan kecerdasan buatan. Menurut Jenny Lee, mitra pengelola senior Granite Asia, pertanyaan yang sering muncul kini bukan lagi apakah China layak diinvestasikan, melainkan apakah investor sedang melewatkan kesempatan. Ketersediaan jaringan pabrik, laboratorium riset, serta akses data dunia nyata menjadi keunggulan kompetitif yang semakin menarik bagi investor global.

Perusahaan seperti Mubadala dan Temasek secara aktif memperluas portofolio di China, terutama di sektor konsumen, bioteknologi, dan perangkat keras berbasis AI. Mubadala telah menginvestasikan minoritas di Luckin Coffee melalui kesepakatan senilai US$1 miliar, sementara Temasek turut serta dalam IPO Zhongji Innolight, produsen komponen optik bernilai miliaran dolar. Kepala investasi Temasek, Rohit Sipahimalani, menegaskan bahwa China tetap menjadi prioritas utama, terutama karena daya saing merek lokal yang terus meningkat dan potensi pertumbuhan di sektor teknologi tinggi.

Meski melonjak, investasi ke China masih kalah jauh dibandingkan AS dan Eropa. Dalam periode yang sama, Amerika Serikat menarik dana kekayaan negara sebesar US$132,4 miliar, sementara Eropa dan Inggris menerima US$44,6 miliar. Investasi sebesar US$14,2 miliar ke China dan Hong Kong, meski naik tajam, hanya mewakili bagian kecil dari total arus global, menunjukkan bahwa meskipun minat meningkat, pasar Barat tetap menjadi pusat utama bagi dana negara.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya