Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

China Pecah Pasar Otomotif dengan Teknologi Lebih Canggih, Harga Lebih Murah

Pakar ITB menjelaskan dominasi mobil China di Indonesia karena kemampuan menawarkan teknologi mutakhir dengan harga lebih rendah dibandingkan produk Jepang dan Eropa.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 13.35 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
China Pecah Pasar Otomotif dengan Teknologi Lebih Canggih, Harga Lebih Murah
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, mengungkapkan perbedaan mendasar antara pabrikan mobil asal Tiongkok dengan merek Jepang dan Eropa dalam strategi pasar. Ia menekankan bahwa produsen mobil China cenderung menghadirkan varian baru dengan spesifikasi teknologi lebih tinggi, namun tetap menjaga harga tetap terjangkau atau bahkan menurun dibanding model sebelumnya. Hal ini berbeda dengan tren di pasar otomotif tradisional, di mana peningkatan fitur biasanya diikuti kenaikan harga.

Menurut Yannes, kebiasaan ini menciptakan disrupsi signifikan dalam dinamika persaingan industri otomotif nasional. Ia menyebut bahwa pabrikan China mampu mengubah ekspektasi konsumen, di mana inovasi tidak lagi harus berarti mahal. “Mobil China punya sifat mendisrupsi pasar. Mereka bisa keluarkan produk baru yang lebih canggih, tapi harganya justru turun. Itu yang bikin beda,” ujarnya. Ia menilai bahwa model ini sulit ditiru oleh merek Jepang dan Eropa, yang umumnya menaikkan harga meski peningkatan teknologi hanya sebatas minor.

Contoh nyata dari tren ini adalah peluncuran Wuling Aira EV pada ajang GIIAS 2026. Varian Standard Range dijual mulai dari Rp155 juta, sedangkan Long Range dibanderol Rp175 juta. Angka ini jauh lebih kompetitif dibandingkan Air EV yang sebelumnya dipasarkan dengan harga antara Rp214 juta hingga Rp307 juta. Selain harga yang lebih terjangkau, Aira EV juga membawa kemajuan teknologi, terutama kemampuan pengisian cepat (fast charging) yang tidak dimiliki oleh model sebelumnya.

Perubahan ini menurut Yannes menjadi daya tarik utama bagi konsumen yang mencari nilai lebih. “Kalau China bikin barang, barangnya keren, harganya ngaget-ngagetin. Dari Air EV ke Aira, teknologi beda, fitur lebih baik, tapi harganya malah turun. Konsumen yang beli Air EV sebelumnya pasti merasa kecewa,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa strategi ini tidak hanya menarik perhatian pasar, tetapi juga menekan posisi merek lain yang berbasis pada harga stabil atau naik seiring inovasi.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya