Rabu, 7 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Denyut Jantung Saat Olahraga: Panduan Aman Berdasarkan Usia dan Intensitas

Denyut jantung saat olahraga harus disesuaikan dengan usia dan kondisi kesehatan, bukan dikejar mencapai angka maksimal.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 7 Oktober 2026, 12.01 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Denyut Jantung Saat Olahraga: Panduan Aman Berdasarkan Usia dan Intensitas📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Denyut jantung meningkat secara alami saat tubuh melakukan aktivitas fisik karena otot membutuhkan lebih banyak oksigen. Jantung merespons dengan memompa darah lebih cepat, yang merupakan mekanisme normal tubuh. Namun, penting untuk memahami batas aman agar olahraga tidak membahayakan kesehatan jantung, terutama bagi pemula atau yang memiliki kondisi medis tertentu.

Untuk memperkirakan denyut jantung maksimal, rumus sederhana yang sering digunakan adalah 220 dikurangi usia. Misalnya, seseorang berusia 40 tahun diperkirakan memiliki denyut jantung maksimal sekitar 180 kali per menit. Meski berguna sebagai acuan, angka ini bukan patokan mutlak karena variasi individu sangat besar, dipengaruhi oleh tingkat kebugaran, riwayat kesehatan, dan kondisi fisik saat berolahraga.

Intensitas olahraga sebaiknya dikelola berdasarkan persentase denyut jantung maksimal. Untuk latihan aerobik ringan hingga sedang, idealnya berada di kisaran 50–70 persen dari angka perkiraan maksimal. Sementara intensitas berat berada di kisaran 70–85 persen. Pada kasus usia 40 tahun, ini berarti rentang 90–126 kali per menit untuk intensitas sedang, dan 126–153 kali per menit untuk intensitas berat. Namun, angka-angka ini hanya sebagai panduan, bukan aturan ketat.

Tidak semua aktivitas olahraga menunjukkan kenaikan denyut jantung yang linier. Saat melakukan angkat beban, denyut jantung bisa naik dan turun sesuai set dan istirahat, sementara tekanan darah justru meningkat signifikan, terutama jika napas tertahan. Oleh karena itu, denyut jantung yang tidak tinggi belum tentu berarti beban ringan bagi jantung. Pada aktivitas kombinasi seperti HYROX, variasi antara lari dan latihan kekuatan membuat zona denyut jantung tidak cukup menjadi satu-satunya indikator keamanan.

Seseorang sebaiknya segera menghentikan aktivitas jika mengalami gejala seperti nyeri dada, sesak napas tak lazim, pusing, atau detak jantung tidak teratur. Hal ini terutama berlaku bagi penderita hipertensi, penyakit jantung, atau kondisi medis lainnya. Menurut ahli, tujuan olahraga bukan mencapai denyut jantung maksimal, melainkan menjaga konsistensi dan kesesuaian dengan kemampuan tubuh.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya