Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Desil Baru Lumpuhkan Akses Bansos, Warga Terdampak Hingga Mahasiswa Terancam Putus Kuliah

Pergeseran kategori desil menyebabkan ratusan warga, termasuk tukang becak, pedagang asongan, dan mahasiswa, kehilangan akses bantuan sosial, jaminan kesehatan, dan beasiswa meski kondisi ekonomi tetap sulit.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 20.56 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
Desil Baru Lumpuhkan Akses Bansos, Warga Terdampak Hingga Mahasiswa Terancam Putus Kuliah📷 BBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Perubahan klasifikasi desil sejak awal 2026 memicu dampak serius terhadap kelompok rentan di berbagai wilayah Indonesia. Banyak warga yang sebelumnya menerima bantuan sosial kini dinyatakan tidak layak karena masuk kategori desil 6 hingga 10, meski penghasilan mereka tetap minim dan kondisi hidup tidak membaik. Salah satunya adalah Moh. Saleh, 69 tahun, tukang becak dari Pamekasan, yang sehari-hari hanya mampu mengantongi Rp30.000 hingga Rp50.000. Ia menyatakan kekecewaan setelah diketahui tidak lagi memenuhi syarat menerima bansos karena sistem menilai keluarganya berada di tingkat kesejahteraan menengah hingga atas.

Kasus serupa dialami Fitra Episha, 39 tahun, pedagang asongan di Pamekasan, yang selama lebih dari setengah tahun tidak menerima bantuan apapun. Dari aktivitas menjual air mineral, ia hanya mampu menghasilkan Rp20.000 hingga Rp45.000 per hari. Ketika mengecek statusnya melalui laman Cek Bansos, ia terkejut mengetahui kategori desilnya berada di angka 9, padahal kehidupannya jauh dari kategori sejahtera. Ia menyebut sistem yang digunakan tidak mencerminkan realitas ekonomi sehari-hari yang dihadapinya.

Di Yogyakarta, Timbul, 49 tahun, tukang becak dari Kulon Progo, mengalami peningkatan desil dari 1 menjadi 9—lebih tinggi daripada lurah di lingkungannya yang berada di desil 8. Ia tinggal bersama tujuh keluarga di rumah yang tidak layak huni, dengan penghasilan yang berfluktuasi dari nol hingga Rp300.000 per hari. Ia khawatir anaknya tidak bisa melanjutkan kuliah karena sistem menolak bantuan pendidikan berdasarkan kategori desil yang tidak sesuai dengan kondisi keluarga. Ia kini berupaya memperbaiki data melalui desa setempat untuk peninjauan ulang di DTSEN.

Di Jakarta dan Surabaya, kisah serupa menimpa keluarga yang secara ekonomi terpuruk namun terkategori desil 6 atau 7. Sri Mega, warga Jakarta Selatan, menyatakan anaknya tidak lagi menerima Kartu Jakarta Pintar karena data desil keluarga menunjukkan kategori 6, meski sang ayah kini menganggur. Di Surabaya, Diandra Fristi, mahasiswi berprestasi dengan IPK 3,9, terancam putus kuliah karena sistem menolak beasiswa dengan alasan desil keluarganya 7, padahal verifikasi ulang menunjukkan kategori 2. Ia menyayangkan sistem yang tidak mengakomodasi kondisi aktual keluarga.

Ketidaksesuaian data juga berdampak pada akses kesehatan. Ajat, pedagang es keliling asal Lebak, kehilangan status BPJS PBI karena masuk desil 6, padahal ia menjalani cuci darah rutin. Sementara itu, warga Sragen bernama Ipeh merasa terkejut ketika mengetahui dirinya berada di desil 9 meski tinggal di rumah dengan daya listrik 900 VA dan gaji masih sesuai UMR. Polemik ini menyebar luas di media sosial, dengan banyak warga melaporkan ketidakakuratan data yang tidak sesuai dengan kenyataan hidup mereka.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya