Desil Baru Lumpuhkan Akses Bansos, Warga Terdampak Hingga Mahasiswa Terancam Putus Kuliah
Pergeseran kategori desil menyebabkan ratusan warga, termasuk tukang becak, pedagang asongan, dan mahasiswa, kehilangan akses bantuan sosial, jaminan kesehatan, dan beasiswa meski kondisi ekonomi tetap sulit.
Redaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 20.56 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
📷 BBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Perubahan klasifikasi desil sejak awal 2026 memicu dampak serius terhadap kelompok rentan di berbagai wilayah Indonesia. Banyak warga yang sebelumnya menerima bantuan sosial kini dinyatakan tidak layak karena masuk kategori desil 6 hingga 10, meski penghasilan mereka tetap minim dan kondisi hidup tidak membaik. Salah satunya adalah Moh. Saleh, 69 tahun, tukang becak dari Pamekasan, yang sehari-hari hanya mampu mengantongi Rp30.000 hingga Rp50.000. Ia menyatakan kekecewaan setelah diketahui tidak lagi memenuhi syarat menerima bansos karena sistem menilai keluarganya berada di tingkat kesejahteraan menengah hingga atas.
Kasus serupa dialami Fitra Episha, 39 tahun, pedagang asongan di Pamekasan, yang selama lebih dari setengah tahun tidak menerima bantuan apapun. Dari aktivitas menjual air mineral, ia hanya mampu menghasilkan Rp20.000 hingga Rp45.000 per hari. Ketika mengecek statusnya melalui laman Cek Bansos, ia terkejut mengetahui kategori desilnya berada di angka 9, padahal kehidupannya jauh dari kategori sejahtera. Ia menyebut sistem yang digunakan tidak mencerminkan realitas ekonomi sehari-hari yang dihadapinya.
Di Yogyakarta, Timbul, 49 tahun, tukang becak dari Kulon Progo, mengalami peningkatan desil dari 1 menjadi 9—lebih tinggi daripada lurah di lingkungannya yang berada di desil 8. Ia tinggal bersama tujuh keluarga di rumah yang tidak layak huni, dengan penghasilan yang berfluktuasi dari nol hingga Rp300.000 per hari. Ia khawatir anaknya tidak bisa melanjutkan kuliah karena sistem menolak bantuan pendidikan berdasarkan kategori desil yang tidak sesuai dengan kondisi keluarga. Ia kini berupaya memperbaiki data melalui desa setempat untuk peninjauan ulang di DTSEN.
Di Jakarta dan Surabaya, kisah serupa menimpa keluarga yang secara ekonomi terpuruk namun terkategori desil 6 atau 7. Sri Mega, warga Jakarta Selatan, menyatakan anaknya tidak lagi menerima Kartu Jakarta Pintar karena data desil keluarga menunjukkan kategori 6, meski sang ayah kini menganggur. Di Surabaya, Diandra Fristi, mahasiswi berprestasi dengan IPK 3,9, terancam putus kuliah karena sistem menolak beasiswa dengan alasan desil keluarganya 7, padahal verifikasi ulang menunjukkan kategori 2. Ia menyayangkan sistem yang tidak mengakomodasi kondisi aktual keluarga.
Ketidaksesuaian data juga berdampak pada akses kesehatan. Ajat, pedagang es keliling asal Lebak, kehilangan status BPJS PBI karena masuk desil 6, padahal ia menjalani cuci darah rutin. Sementara itu, warga Sragen bernama Ipeh merasa terkejut ketika mengetahui dirinya berada di desil 9 meski tinggal di rumah dengan daya listrik 900 VA dan gaji masih sesuai UMR. Polemik ini menyebar luas di media sosial, dengan banyak warga melaporkan ketidakakuratan data yang tidak sesuai dengan kenyataan hidup mereka.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Festival Indonesia 2026 Perkuat Koneksi Budaya di Melbourne
Festival Indonesia 2026 di Melbourne sukses menarik lebih dari 6.000 pengunjung dengan persembahan budaya, kuliner, dan UMKM dari berbagai daerah.
25 Oktober 2026

Ratusan Ribu Warga Israel Desak Pertanggungjawaban atas Kegagalan Keamanan
Ribuan warga Israel menggelar demonstrasi besar di Tel Aviv menuntut penyelidikan independen atas kegagalan keamanan sebelum serangan 7 Oktober 2023, menjelang pemilu yang menentukan arah kebijakan militer dan politik negara.
25 Oktober 2026

Trump Pertimbangkan Serangan Militer ke Iran dalam Waktu Dekat
Presiden AS Donald Trump menyatakan sedang mempertimbangkan serangan terhadap Iran, bahkan bisa terjadi besok, dengan tujuan mencegah pengembangan senjata nuklir secara permanen.
25 Oktober 2026

Kim Jong Un Kunjungi Monumen Perang Korea di Dandong
Pemimpin Korea Utara melakukan kunjungan singkat ke Dandong, China, menjelang peringatan 76 tahun kehadiran relawan Tiongkok dalam Perang Korea, dengan fokus pada simbolisme sejarah dan kebersamaan strategis.
25 Oktober 2026
Berita Lainnya

Lonjakan Pasien RS di Kalteng Akibat Kabut Asap, Kemenkes Percepat Bantuan Medis
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.29 WITA

Klaten Perluas Akses PAUD Dukung Wajar 13 Tahun
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.28 WITA

Operasi Modifikasi Cuaca Turunkan Polusi Selama Acara Besar
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.27 WITA

Presiden Tak Bisa Hentikan Gibran Secara Sepihak, Tegas Anggota DPR Gerindra
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.27 WITA

Tito Karnavian Masuk Lima Besar Menteri dengan Kinerja Terbaik
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.27 WITA

PDIP Respons Ajakan PKS Periksa Ijazah Wapres Gibran
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.26 WITA

Ledakan di Lapak Besi Tua, Tim Jibom Sterilisasi TKP
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.26 WITA

Kumitra Jambore 2026 Dorong Integrasi UMKM Kalsel ke Pasar Nasional
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.26 WITA

