Selasa, 29 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Dolar AS Menguat, BI Waspadai Tekanan pada Rupiah

Penguatan dolar AS akibat kenaikan suku bunga The Fed dan gejolak global memperburuk tekanan terhadap rupiah, yang berpotensi memicu kenaikan harga impor dan beban utang valuta asing.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 29 September 2026, 09.01 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Dolar AS Menguat, BI Waspadai Tekanan pada Rupiah📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh The Federal Reserve ke level 3,75–4 persen menjadi pemicu utama penguatan dolar AS, yang kini mencapai level DXY 101,11 dan 96,26 di kawasan Asia. Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyatakan bahwa kebijakan moneter AS yang lebih ketat, ditambah inflasi global sebesar 4,6 persen dan kenaikan harga minyak akibat konflik geopolitik, mendorong arus modal ke aset berdenominasi dolar. Kondisi ini menimbulkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah, yang sebelumnya berada di Rp17.917 per dolar AS berdasarkan JISDOR pada Jumat (25/9).

Dampak langsung dari penguatan dolar terasa pada sektor impor, di mana kenaikan harga barang dan bahan baku impor berdampak langsung terhadap inflasi domestik. Indonesia yang masih bergantung pada impor energi, bahan baku, dan perlengkapan produksi menghadapi tekanan biaya yang semakin besar. Ketika rupiah melemah bersamaan dengan lonjakan harga minyak dunia, tekanan ekonomi menjadi ganda, menambah beban bagi industri dan konsumen.

Analis Senior ISEAI, Ronny P. Sasmita, menekankan bahwa penguatan dolar bukan hanya soal nilai tukar, tetapi juga mencerminkan permintaan tinggi terhadap aset berdenominasi dolar. Faktor-faktor seperti yield aset AS yang meningkat, ketidakpastian global, dan risiko geopolitik mendorong investor mencari perlindungan di aset aman. Dalam konteks ini, tekanan eksternal menjadi tantangan besar, namun kondisi domestik seperti kredibilitas fiskal dan stabilitas neraca eksternal tetap menentukan sejauh mana dampak global dapat menyebar ke dalam ekonomi nasional.

Di sisi lain, penguatan dolar juga membawa dampak positif bagi sektor ekspor, terutama bagi eksportir yang menerima pembayaran dalam dolar. Jika harga komoditas ekspor tetap kuat, penerimaan dalam rupiah bisa meningkat secara signifikan. Namun, secara keseluruhan, kondisi ini menciptakan redistribusi beban dan manfaat antar sektor. Untuk mengantisipasi, BI perlu fokus pada pengendalian volatilitas pasar valuta asing, bukan mempertahankan level tertentu secara kaku, melalui intervensi pasar spot, DNDF, NDF, dan kebijakan moneter yang relevan.

Cadangan devisa Indonesia yang mencapai sekitar US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026—setara dengan 5,4 bulan impor—memberikan ruang strategis bagi BI untuk menghadapi tekanan eksternal. Dengan demikian, respons yang tepat bukan hanya menekan pelemahan rupiah secara teknis, tetapi juga menjaga fungsi pasar valuta asing dan memperkuat ekspektasi pasar agar tidak terjadi depresiasi berkelanjutan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya