Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Dua Kapal Pengungsi Rohingya Tenggelam, Ratusan Tewas di Laut Arakan

Lebih dari 500 orang, mayoritas etnis Rohingya, tewas dalam insiden tenggelamnya dua kapal di perairan Myanmar akhir Juni 2026, menurut pernyataan bersama PBB dan IOM.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 21.04 WITA·👁 4 orang membaca· 0 hari ini · 16x dibuka
Dua Kapal Pengungsi Rohingya Tenggelam, Ratusan Tewas di Laut Arakan📷 Tempo

Kendari, ıNarasikita - Dua kapal yang membawa ratusan warga etnis Rohingya dari wilayah Rakhine, Myanmar, dilaporkan tenggelam dalam perjalanan ilegal di perairan Ayeyarwady pada awal Juli 2026. Badan Pengungsi PBB dan Organisasi Migrasi Internasional (IOM) mengonfirmasi bahwa sekitar 250 orang berada di kapal pertama yang hilang kontak tak lama setelah berangkat, sementara kapal kedua yang membawa 280 penumpang diduga karam di dekat pesisir barat Myanmar pada 8 Juli. Kedua kapal tersebut diketahui membawa korban yang berasal dari kamp pengungsian di Cox’s Bazar, Bangladesh, yang menjadi pusat pengungsian terbesar dunia bagi etnis Rohingya.

Korban diduga tewas akibat tenggelam atau kekurangan oksigen dalam kondisi kapal yang penuh sesak dan tidak layak. Meskipun jumlah pasti korban belum dinyatakan secara resmi oleh otoritas lokal, kedua lembaga PBB menyatakan kekhawatiran tinggi atas skala tragedi ini. Sebagian besar penumpang merupakan perempuan, anak-anak, dan lansia yang berani menghadapi risiko ekstrem demi mencari perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi sistemik di tanah kelahiran mereka.

Pengungsi Rohingya, yang sebagian besar tidak memiliki kewarganegaraan, terus mengalami tekanan berat di Rakhine, di mana kekerasan militer dan diskriminasi etnis telah berlangsung bertahun-tahun. Sejak 2017, lebih dari satu juta orang telah melarikan diri dari Myanmar menuju Bangladesh, Indonesia, dan negara-negara tetangga lainnya. Jalur laut melalui Teluk Benggala dan Laut Andaman menjadi pilihan ekstrem bagi mereka yang tidak bisa menempuh perjalanan darat karena blokade atau risiko tinggi.

Kegiatan pelarian ini menunjukkan keterpurukan sistemik yang dihadapi komunitas Rohingya, di mana akses terhadap keamanan, kewarganegaraan, dan hak dasar terus terhambat. Peristiwa tenggelamnya dua kapal tersebut menjadi bukti nyata bahwa banyak dari mereka rela mengorbankan nyawa demi mencari tempat yang lebih aman. PBB dan IOM menyerukan respons internasional yang lebih terkoordinasi untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya