Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Ekonomi Indonesia Tumbuh Kuat di Tengah Tantangan Global

Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,45% pada kuartal II-2026, didukung perbaikan indikator kesejahteraan dan stabilitas eksternal.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 22 Oktober 2026, 17.31 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 16x dibuka
Ekonomi Indonesia Tumbuh Kuat di Tengah Tantangan Global📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan signifikan di tengah tekanan eksternal yang terus berlangsung. Dalam lima kuartal berturut-turut, pertumbuhan ekonomi tetap berada di atas angka 5%, dengan capaian 5,11% pada 2025, 5,61% pada Triwulan I-2026, dan 5,29% pada Triwulan II-2026. Pertumbuhan kuartal pertama tahun ini menjadi yang tertinggi dalam 13 tahun terakhir, sejak 2013. Hal ini mencerminkan kekuatan fundamental ekonomi domestik yang terus terjaga meski menghadapi gejolak geopolitik dan fluktuasi harga komoditas global.

Perbaikan kondisi sosial ekonomi juga terlihat dari penurunan jumlah penduduk miskin yang mencapai 22,93 juta orang pada Maret 2026, turun 0,43 juta dibandingkan September 2025, sehingga tingkat kemiskinan menurun menjadi 8,07%, level terendah dalam sejarah pencatatan. Di sektor ketenagakerjaan, jumlah penduduk bekerja mencapai 148,19 juta orang, dengan penyerapan tenaga kerja meningkat 522 ribu orang antara Februari hingga Mei 2026. Tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 4,65%, seiring meningkatnya proporsi pekerja formal yang menunjukkan kualitas lapangan kerja yang semakin baik.

Indikator ekonomi domestik pada semester pertama 2026 menunjukkan optimisme yang stabil. Inflasi pada September 2026 tercatat 3,28% (yoy), sementara PMI Manufaktur Indonesia berada di level ekspansi 52,4. Keyakinan konsumen juga meningkat, terukur dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang mencapai 118,1. Realisasi investasi pada semester I-2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan kontribusi PMA sebesar Rp507,6 triliun dan PMDN sebesar Rp502,9 triliun, termasuk 50,2% dari total investasi terjadi di luar Pulau Jawa.

Neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2026 mencatat surplus USD3,55 miliar, dengan kumulatif Januari-Agustus 2026 mencapai surplus USD7,25 miliar. Surplus ini didorong oleh surplus nonmigas sebesar USD28,54 miliar, sekalipun defisit migas tercatat USD21,29 miliar. Nilai ekspor Indonesia pada periode tersebut mencapai USD193,64 miliar, tumbuh 4,74% dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Kepercayaan global terhadap ekonomi Indonesia juga terjaga, terbukti dengan tetapnya peringkat kredit berdaulat Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil oleh S&P Global Ratings pada 13 Juli 2026.

Pemerintah terus memperkuat momentum pertumbuhan dengan berbagai kebijakan strategis. Implementasi Biodiesel 50 sejak 1 Juli 2026 menjadi salah satu fokus utama, yang diharapkan menghemat devisa hingga Rp170 triliun dan meningkatkan nilai tambah industri kelapa sawit. Di sisi lain, percepatan pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) dan penerbitan Panda Bond dengan peringkat AAA dari lembaga pemeringkat Tiongkok menjadi langkah konkret dalam memperluas pembiayaan dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika global yang kompleks.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya