Selasa, 22 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

El Nino Ancam Kualitas Kredit Perbankan

OJK memperingatkan risiko kredit bermasalah akibat dampak El Nino terhadap sektor yang bergantung pada iklim, terutama pertanian dan UMKM.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 21 September 2026, 17.35 WITA·👁 3 orang membaca· 0 hari ini · 5x dibuka
El Nino Ancam Kualitas Kredit Perbankan📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggarisbawahi potensi gangguan iklim akibat fenomena El Nino terhadap stabilitas sistem keuangan nasional. Dalam keterangan resmi, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan menegaskan bahwa perubahan cuaca ekstrem yang ditimbulkan El Nino dapat menimbulkan kekeringan berkepanjangan, gangguan produksi, dan meningkatnya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Dampak ini berpotensi merambat dari sektor riil ke sektor keuangan, mengancam kualitas aset, profitabilitas, likuiditas, serta tingkat permodalan bank.

Fenomena tersebut kini menjadi bagian dari perhatian utama dalam pengelolaan risiko iklim di industri perbankan. Kondisi cuaca ekstrem menyebabkan penurunan produktivitas di sektor yang sangat rentan terhadap perubahan iklim, seperti pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, dan industri makanan serta minuman. Gangguan terhadap produksi berdampak langsung pada pendapatan debitur, meningkatkan biaya operasional, dan menurunkan kemampuan membayar kredit, yang pada gilirannya berpotensi menaikkan tingkat nonperforming loan (NPL).

Bank yang memiliki konsentrasi pembiayaan tinggi di wilayah atau sektor yang rentan terhadap El Nino dianggap lebih terpapar risiko penurunan kualitas aset dibandingkan institusi dengan portofolio yang lebih beragam. Risiko ini termasuk dalam kategori physical climate risk, yaitu dampak langsung perubahan iklim terhadap aktivitas ekonomi dan kinerja keuangan debitur. OJK mendorong perbankan untuk memperkuat ketahanan dengan mengintegrasikan analisis risiko iklim ke dalam strategi bisnis dan manajemen risiko.

Selain itu, perbankan diminta mempercepat transisi menuju model keuangan berkelanjutan dengan memprioritaskan alokasi modal dan pembiayaan ke sektor ramah lingkungan serta mengembangkan produk keuangan berbasis keberlanjutan. Langkah ini tidak hanya menjadi mitigasi terhadap dampak iklim, tetapi juga sebagai upaya mendorong transformasi ekonomi ke arah yang lebih berkelanjutan.

Bagi Bank Perkreditan Rakyat (BPR), risiko El Nino juga menjadi perhatian khusus karena banyak dari mereka memiliki eksposur tinggi terhadap sektor pertanian, perkebunan, perdagangan, dan usaha mikro, kecil, dan menengah. Gangguan produksi dan penurunan aktivitas ekonomi di daerah dapat memengaruhi kemampuan pembayaran debitur secara langsung maupun tidak langsung. Berdasarkan POJK Nomor 9 Tahun 2024, BPR dan BPR Syariah wajib menerapkan tata kelola keuangan berkelanjutan dan menyusun rencana aksi yang mencakup pengelolaan risiko iklim, termasuk prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola dalam operasional bisnis.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya