Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Emas 30.000 Ton di Banten, Warisan Kolonial yang Tak Pernah Kembali

Temuan cadangan emas raksasa di Cikotok, Banten, pada era kolonial mencapai 30 ribu ton, dieksploitasi secara masif hingga 1933 sebelum akhirnya dinyatakan habis pada 2005.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 6 September 2026, 11.28 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Emas 30.000 Ton di Banten, Warisan Kolonial yang Tak Pernah Kembali
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Wilayah Cikotok di Banten, sekitar 200 kilometer selatan Jakarta, pernah menjadi pusat eksploitasi emas terbesar di Nusantara pada masa kolonial. Berdasarkan catatan sejarah, wilayah ini diketahui memiliki cadangan bijih emas mencapai 30 ribu ton—angka yang menggambarkan potensi geologis luar biasa. Upaya eksploitasi dimulai setelah pemerintah Hindia Belanda mengirim tim geologi dipimpin W.F.F. Oppenoorth pada 1919 untuk menguji kebenaran desas-desus tentang kekayaan bawah tanah.

Tim ini melakukan eksplorasi ekstensif melalui hutan lebat, membangun akses jalan, dan mengebor 25 terowongan di perbukitan Cikotok. Pada 1928, hasil kerja keras itu tercatat dalam laporan pers: sebagian terowongan telah menembus kedalaman hingga 135 meter. Meski anggaran tahunan mencapai 80.000 gulden—setara miliaran rupiah saat ini—investasi itu terbukti menguntungkan, karena temuan cadangan emas secara ilmiah telah terkonfirmasi.

Eksploitasi kemudian diberikan kepada perusahaan NV Mijnbouw Maatschappij Zuid Bantam, yang membangun infrastruktur logistik melalui Rangkasbitung dan Pelabuhan Ratu. Sebuah pabrik pengolahan dengan kapasitas 20 ton per hari didirikan, tetapi tidak mampu menampung volume hasil tambang yang melimpah. Banyak buruh pribumi menemukan bongkahan emas dengan berat hingga 126 gram, membuktikan kualitas bijih yang tinggi. Pada 1933, luas konsesi mencapai 400 kilometer persegi dengan potensi cadangan diperkirakan melampaui 61.000 ton, bernilai 3,68 miliar gulden.

Setelah kemerdekaan, manajemen tambang diserahkan ke NV Perusahaan Pembangunan Pertambangan, lalu berganti ke PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada 1974. Aktivitas pertambangan berlangsung hingga 2005, ketika cadangan emas dinyatakan habis. Meski kejayaan Cikotok telah berakhir, warisan sejarahnya tetap menjadi bukti bahwa Indonesia pernah memiliki potensi mineral yang luar biasa, sekaligus mengingatkan akan distribusi ketimpangan hasil eksploitasi masa lalu.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya