Embun Beku Ulangi Krisis Pangan di Pegunungan Tengah Papua
Hujan es dan embun beku kembali melanda wilayah pegunungan tengah Papua, merusak ratusan hektare tanaman pangan dan memicu krisis pangan, meski gudang logistik yang dibangun pemerintah tetap kosong.
Redaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 20.49 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 5x dibuka
📷 BBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Peristiwa alam ekstrem berupa hujan es dan embun beku kembali terjadi di Distrik Kuyawage, Kabupaten Lanny Jaya, sejak awal Juli hingga akhir Agustus, menimbulkan dampak serius terhadap pertanian lokal. Tanaman pangan milik warga, termasuk jagung, singkong, dan ubi, mengering total akibat suhu ekstrem yang mencapai titik beku. Warga menyebut kondisi ini bukan yang pertama kali, melainkan bagian dari siklus berulang yang telah mereka alami sejak puluhan tahun lalu, bahkan sejak masa kelahiran sebagian besar penduduk setempat.
Di Kabupaten Puncak, tiga distrik—Agandugume, Lambewi, dan Oneri—juga terdampak serius sejak bulan Juni. Data yang dikumpulkan oleh warga menyebut sekitar 500 hektare kebun mengalami kerusakan total. Masyarakat setempat mencatat adanya lima gelombang embun beku dalam rentang waktu dua bulan, yang disertai suhu menurun drastis hingga memicu kematian tanaman. Meski telah melaporkan kondisi ke berbagai instansi pemerintah daerah, termasuk BPBD dan dinas terkait, penyaluran bantuan pangan tetap tertunda dengan alasan keamanan yang diklaim pemerintah.
Warga menegaskan bahwa gudang logistik yang dibangun pemerintah pusat sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi krisis pangan akibat cuaca ekstrem tetap kosong. Dua lumbung yang dibangun di Kabupaten Puncak, yang dijanjikan sebagai tempat penyimpanan cadangan pangan, tidak pernah digunakan untuk menyimpan stok bahan makanan. Hal ini memperkuat kekecewaan warga terhadap janji-janji pemerintah yang tak pernah terealisasi, terlebih ketika krisis kembali terulang.
Dalam konteks yang lebih luas, kondisi ini terjadi di tengah ketegangan sosial dan konflik bersenjata yang telah memperparah keterpencilan dan keterbatasan akses bagi warga. Banyak warga yang sebelumnya mengungsi dari daerah konflik seperti Nduga dan Ilaga kini kembali terjebak dalam krisis pangan akibat bencana alam. Mereka tidak lagi memilih mengungsi ke daerah lain karena ancaman kekerasan masih tinggi di wilayah tersebut.
Kekhawatiran terhadap kesehatan juga meningkat, karena suhu dingin menyebabkan warga, terutama anak-anak dan lansia, mengalami batuk, flu, dan infeksi pernapasan. Namun akses ke layanan kesehatan sangat terbatas. Warga berharap pemerintah tidak hanya menanggapi krisis saat terjadi, tetapi juga memastikan infrastruktur mitigasi seperti gudang logistik berfungsi secara efektif dan terus diisi cadangan pangan guna mencegah kegagalan panen berulang.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Festival Indonesia 2026 Perkuat Koneksi Budaya di Melbourne
Festival Indonesia 2026 di Melbourne sukses menarik lebih dari 6.000 pengunjung dengan persembahan budaya, kuliner, dan UMKM dari berbagai daerah.
25 Oktober 2026

Ratusan Ribu Warga Israel Desak Pertanggungjawaban atas Kegagalan Keamanan
Ribuan warga Israel menggelar demonstrasi besar di Tel Aviv menuntut penyelidikan independen atas kegagalan keamanan sebelum serangan 7 Oktober 2023, menjelang pemilu yang menentukan arah kebijakan militer dan politik negara.
25 Oktober 2026

Trump Pertimbangkan Serangan Militer ke Iran dalam Waktu Dekat
Presiden AS Donald Trump menyatakan sedang mempertimbangkan serangan terhadap Iran, bahkan bisa terjadi besok, dengan tujuan mencegah pengembangan senjata nuklir secara permanen.
25 Oktober 2026

Kim Jong Un Kunjungi Monumen Perang Korea di Dandong
Pemimpin Korea Utara melakukan kunjungan singkat ke Dandong, China, menjelang peringatan 76 tahun kehadiran relawan Tiongkok dalam Perang Korea, dengan fokus pada simbolisme sejarah dan kebersamaan strategis.
25 Oktober 2026
Berita Lainnya

Lonjakan Pasien RS di Kalteng Akibat Kabut Asap, Kemenkes Percepat Bantuan Medis
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.29 WITA

Klaten Perluas Akses PAUD Dukung Wajar 13 Tahun
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.28 WITA

Operasi Modifikasi Cuaca Turunkan Polusi Selama Acara Besar
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.27 WITA

Presiden Tak Bisa Hentikan Gibran Secara Sepihak, Tegas Anggota DPR Gerindra
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.27 WITA

Tito Karnavian Masuk Lima Besar Menteri dengan Kinerja Terbaik
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.27 WITA

PDIP Respons Ajakan PKS Periksa Ijazah Wapres Gibran
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.26 WITA

Ledakan di Lapak Besi Tua, Tim Jibom Sterilisasi TKP
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.26 WITA

Kumitra Jambore 2026 Dorong Integrasi UMKM Kalsel ke Pasar Nasional
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.26 WITA

