Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Embun Beku Ulangi Krisis Pangan di Pegunungan Tengah Papua

Hujan es dan embun beku kembali melanda wilayah pegunungan tengah Papua, merusak ratusan hektare tanaman pangan dan memicu krisis pangan, meski gudang logistik yang dibangun pemerintah tetap kosong.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 20.49 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 5x dibuka
Embun Beku Ulangi Krisis Pangan di Pegunungan Tengah Papua📷 BBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Peristiwa alam ekstrem berupa hujan es dan embun beku kembali terjadi di Distrik Kuyawage, Kabupaten Lanny Jaya, sejak awal Juli hingga akhir Agustus, menimbulkan dampak serius terhadap pertanian lokal. Tanaman pangan milik warga, termasuk jagung, singkong, dan ubi, mengering total akibat suhu ekstrem yang mencapai titik beku. Warga menyebut kondisi ini bukan yang pertama kali, melainkan bagian dari siklus berulang yang telah mereka alami sejak puluhan tahun lalu, bahkan sejak masa kelahiran sebagian besar penduduk setempat.

Di Kabupaten Puncak, tiga distrik—Agandugume, Lambewi, dan Oneri—juga terdampak serius sejak bulan Juni. Data yang dikumpulkan oleh warga menyebut sekitar 500 hektare kebun mengalami kerusakan total. Masyarakat setempat mencatat adanya lima gelombang embun beku dalam rentang waktu dua bulan, yang disertai suhu menurun drastis hingga memicu kematian tanaman. Meski telah melaporkan kondisi ke berbagai instansi pemerintah daerah, termasuk BPBD dan dinas terkait, penyaluran bantuan pangan tetap tertunda dengan alasan keamanan yang diklaim pemerintah.

Warga menegaskan bahwa gudang logistik yang dibangun pemerintah pusat sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi krisis pangan akibat cuaca ekstrem tetap kosong. Dua lumbung yang dibangun di Kabupaten Puncak, yang dijanjikan sebagai tempat penyimpanan cadangan pangan, tidak pernah digunakan untuk menyimpan stok bahan makanan. Hal ini memperkuat kekecewaan warga terhadap janji-janji pemerintah yang tak pernah terealisasi, terlebih ketika krisis kembali terulang.

Dalam konteks yang lebih luas, kondisi ini terjadi di tengah ketegangan sosial dan konflik bersenjata yang telah memperparah keterpencilan dan keterbatasan akses bagi warga. Banyak warga yang sebelumnya mengungsi dari daerah konflik seperti Nduga dan Ilaga kini kembali terjebak dalam krisis pangan akibat bencana alam. Mereka tidak lagi memilih mengungsi ke daerah lain karena ancaman kekerasan masih tinggi di wilayah tersebut.

Kekhawatiran terhadap kesehatan juga meningkat, karena suhu dingin menyebabkan warga, terutama anak-anak dan lansia, mengalami batuk, flu, dan infeksi pernapasan. Namun akses ke layanan kesehatan sangat terbatas. Warga berharap pemerintah tidak hanya menanggapi krisis saat terjadi, tetapi juga memastikan infrastruktur mitigasi seperti gudang logistik berfungsi secara efektif dan terus diisi cadangan pangan guna mencegah kegagalan panen berulang.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya