Sabtu, 26 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Guruh Soekarnoputra Tutup Usia, Warisan Seni Abadi di Hati Bangsa

Komposer dan budayawan legendaris Guruh Soekarnoputra meninggal dunia pada usia 73 tahun, memicu duka luas dari berbagai tokoh seni dan publik.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 26 September 2026, 15.38 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 5x dibuka
Guruh Soekarnoputra Tutup Usia, Warisan Seni Abadi di Hati Bangsa📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kepulangan Guruh Soekarnoputra, sosok pionir seni dan budaya Indonesia, menorehkan kesedihan mendalam di kalangan insan kreatif dan masyarakat luas. Berpulang pada Sabtu (26/9), pria yang akrab disapa Mas Ruh itu meninggalkan warisan karya abadi yang mengukir sejarah musik tanah air. Sejumlah tokoh dari dunia hiburan, seni, dan politik menyampaikan bela sungkawa melalui media sosial, mengenang jasa dan dedikasinya yang tak tergantikan.

Salah satu yang turut berduka adalah penyanyi Memes, yang mengenang masa awal karier sebagai anggota Swara Maharddhika pada usia 15 tahun. Ia menggambarkan Guruh sebagai sosok yang tidak hanya mengajarkan musik dan tari, tetapi juga nilai disiplin dan kecintaan terhadap kebudayaan nasional. Unggahan haru di akun Instagram-nya menyentuh hati publik: “Selamat jalan Mas Ruh... istirahat dengan damai seperti lagu Damai yang dirimu ciptakan.”

Bukan hanya dari kalangan musik, perasaan kehilangan juga dirasakan Reza Artamevia, yang mengenang saat Guruh hadir dalam momen pernikahannya. Ia menyebut karya sang maestro tak akan pernah pudar oleh waktu, menjadi bagian tak terpisahkan dari kenangan indah dalam hidupnya. Sementara itu, Melly Goeslaw dan Raffi Ahmad turut menyampaikan doa, menegaskan bahwa warisan seni Guruh akan terus hidup dalam ingatan kolektif bangsa.

Guruh, yang lahir pada 13 Januari 1953 sebagai anak bungsu Presiden Soekarno dan adik dari Megawati Soekarnoputri, menempuh pendidikan di berbagai institusi, mulai dari Perguruan Cikini hingga studi arkeologi di University of Amsterdam. Ia juga menyelesaikan pendidikan sarjana dan magister di bidang administrasi publik dan manajemen sumber daya manusia. Sejak dini, bakatnya dalam seni tari dan musik terasah, menghasilkan karya-karya ikonik seperti *Galih dan Ratna*, *Zamrud Khatulistiwa*, dan *Melati Suci*.

Kehidupannya yang padat karya juga mencakup peran di dunia politik, dengan keanggotaan di PDIP sejak 1982 dan menjadi anggota DPR periode 1999–2024. Meski aktif di berbagai bidang, ia tetap dikenang sebagai sosok yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan dan kebangsaan. Kabar meninggalnya dikonfirmasi oleh politisi PDIP Cyril Raoul Hakim atau Ciko Hakim, yang menyatakan kepergian almarhum sebagai kehilangan besar bagi bangsa.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya