Sabtu, 3 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Hampir 2 Ribu Orang Ditangkap Akibat Aksi Protes Siswa di Prancis

Aksi unjuk rasa siswa dan mahasiswa di Prancis yang memicu kerusuhan menelan hampir 2 ribu orang ditangkap sejak September, didorong oleh keluhan atas kekurangan guru dan kondisi sekolah yang memprihatinkan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 3 Oktober 2026, 09.08 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Hampir 2 Ribu Orang Ditangkap Akibat Aksi Protes Siswa di Prancis📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Aksi protes yang awalnya digelar oleh kalangan pelajar dan mahasiswa di berbagai kota Prancis telah berubah menjadi kerusuhan massal, mengakibatkan hampir 2 ribu orang ditangkap oleh aparat keamanan. Aksi ini bermula dari keluhan terkait keterbatasan tenaga pengajar dan kondisi bangunan sekolah yang rusak, namun seiring waktu meluas dan berbentuk keributan yang melibatkan pembakaran fasilitas umum serta bentrokan dengan polisi.

Menteri Kehakiman Prancis, Gerald Darmanin, menyatakan bahwa sebagian besar pelaku yang ditangkap bukanlah siswa sekolah menengah atas, melainkan kelompok minoritas yang memanfaatkan momentum protes untuk melakukan tindakan kekerasan. Ia menekankan bahwa situasi telah berubah dari demonstrasi damai menjadi gangguan terhadap ketertiban umum, termasuk penyerangan terhadap bus dan pembakaran gedung sekolah.

Berdasarkan catatan, sekitar dua pertiga dari total yang ditangkap ditahan oleh kepolisian, menunjukkan tingkat eskalasi yang signifikan. Aksi protes yang awalnya berlangsung di sejumlah sekolah sejak pekan lalu mulai memburuk sejak Selasa (29/9), dengan bentrokan intensif terjadi pada Kamis dan meluas ke berbagai wilayah. Video yang tersebar di media sosial menampilkan insiden penyerangan terhadap seorang guru, memperkuat kekhawatiran atas keamanan tenaga pendidik.

Beberapa lembaga intelijen melaporkan adanya keterlibatan politisi sayap kiri dalam memicu eskalasi kerusuhan, namun pihak anggota parlemen menolak tuduhan tersebut. Meskipun demikian, akar permasalahan tetap berakar pada krisis sumber daya di sektor pendidikan, dengan siswa menyoroti ketidakmampuan pemerintah dalam mengganti guru yang absen dan memperbaiki infrastruktur sekolah yang memburuk.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya