Jumat, 11 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Harga Kedelai Naik, Tahu-Tempe Tetap Stabil

Kenaikan harga kedelai impor belum memicu kenaikan harga jual tahu dan tempe, meski tekanan harga terjadi di tingkat importir.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 10 September 2026, 22.37 WITA·👁 5 orang membaca· 5 hari ini · 11x dibuka
Harga Kedelai Naik, Tahu-Tempe Tetap Stabil📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kenaikan harga kedelai di tingkat importir belum berdampak langsung pada harga jual tahu dan tempe di pasaran. Menurut pernyataan Sekretaris Jenderal Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), harga produk akhir tetap stabil hingga pertengahan September 2026, meski biaya bahan baku meningkat di sejumlah wilayah.

Harga kedelai di tingkat perajin di Jawa masih berada di bawah Harga Acuan Pemerintah (HAP) Rp12.000 per kg. Di Jawa Barat, harga berkisar Rp11.200–Rp11.750 per kg, Jawa Tengah Rp11.300–Rp11.750 per kg, Jawa Timur Rp11.250–Rp11.550 per kg, dan DKI Jakarta Rp11.400–Rp11.850 per kg. Namun, di wilayah luar Jawa, harga lebih tinggi, mencapai Rp12.800 hingga Rp13.200 per kg, termasuk di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan.

Rata-rata harga kedelai impor nasional pada 8 September 2026 mencapai Rp13.762 per kg, melampaui HAP sebesar Rp1.762 per kg. Kenaikan ini terjadi meski harga komoditas global di Chicago Board of Trade (CBOT) turun dan nilai tukar dolar AS tidak menyentuh level tinggi. Data dari Gakoptindo menunjukkan kenaikan harga di tingkat importir antara 2 hingga 9 September 2026, termasuk merek Bola Merah di Cigading naik dari Rp10.600 menjadi Rp10.700 per kg, serta merek 3 Berlian dan Tugu Monas di Cikarang naik dari Rp10.600 menjadi Rp10.900 per kg.

Menurut Wibowo Nurcahyo, kenaikan harga di dalam negeri terjadi karena pemerintah belum memiliki kendali atas stok kedelai. Tanpa cadangan pangan pemerintah (CPP), harga ditentukan oleh pemilik barang, yaitu importir. Ia menekankan bahwa keberadaan CPP sudah diatur secara regulasi, tetapi belum direalisasikan secara operasional.

Gakoptindo menyerukan agar pemerintah segera merealisasikan CPP kedelai guna menstabilkan harga dan pasokan. Saat ini, stok kedelai masih tersedia menurut informasi dari importir, namun ketergantungan pada sektor swasta membuat pasar rentan terhadap fluktuasi. Dengan keberadaan cadangan, pemerintah dapat mengendalikan lonjakan harga dan menjaga ketersediaan bahan baku bagi perajin tahu dan tempe.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya