Harga Pangan di Daerah Terdampak Erupsi Tetap Terkendali
Pantauan pemerintah melalui sistem digital menunjukkan harga pangan di wilayah terdampak erupsi tetap stabil, termasuk telur dan daging ayam, meski fluktuasi pasar terjadi.
Redaksi iNarasikita·Kamis, 10 September 2026, 11.30 WITA·👁 4 orang membaca· 0 hari ini · 23x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Kementerian Perdagangan melaporkan kondisi harga pangan di sejumlah kabupaten dan kota yang terdampak abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau masih dalam batas normal. Data dari Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) menunjukkan tidak terjadi lonjakan harga signifikan di pasar tradisional maupun modern. Hasil pemantauan ini didukung oleh koordinasi langsung dengan pemerintah daerah dan pelaku usaha.
Menteri Perdagangan menegaskan bahwa sistem pemantauan yang digunakan mampu melacak pergerakan harga secara real time di seluruh wilayah Indonesia, termasuk kawasan yang mengalami gangguan akibat aktivitas vulkanik. Dari data tersebut, tidak ditemukan indikasi kenaikan harga yang tidak wajar pada komoditas pokok utama seperti beras, telur, dan daging. Kestabilan ini menjadi bukti efektivitas mekanisme pengawasan yang telah diterapkan.
Pemerintah menekankan bahwa harga acuan tetap menjadi acuan utama dalam menilai kenaikan atau penurunan harga, bukan hanya fluktuasi pasar semata. Sebagai contoh, harga acuan telur ayam ditetapkan sebesar Rp30.000 per kilogram, yang mencerminkan total biaya produksi, distribusi, dan keuntungan wajar. Meski harga di pasar sempat mencapai Rp26.600 per kg, angka tersebut masih berada di bawah batas acuan, sehingga tidak dianggap sebagai kenaikan yang perlu intervensi.
Pemerintah juga memperhatikan kondisi penurunan harga yang berpotensi merugikan produsen. Dalam kasus daging ayam, penurunan harga dari Rp40.000 per kg menjadi Rp34.000 per kg menyebabkan tekanan ekonomi bagi peternak. Jika dibiarkan, hal ini dapat mengancam kelangsungan produksi dan berujung pada kelangkaan di masa depan. Oleh karena itu, intervensi dilakukan tidak hanya saat harga naik, tetapi juga saat harga turun di bawah harga acuan untuk menjaga keseimbangan pasar.
Tujuan utama kebijakan ini adalah menjaga stabilitas harga jangka panjang serta melindungi keberlanjutan produksi komoditas pangan. Dengan pendekatan yang seimbang, pemerintah berupaya menghindari gejolak pasar yang berdampak pada daya beli masyarakat dan ketersediaan pangan secara nasional.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Lurah Diminta Jadi Penggerak Komunikasi Publik Berkualitas
Pelatihan humas bagi finalis Benyamin S Award 2026 tekankan pentingnya komunikasi efektif antara pemerintah kelurahan dan masyarakat.
26 Oktober 2026

700 Ribu Badan Usaha Diblokir Gara-Gara Tak Laporkan Pemilik Manfaat
Kementerian Hukum memblokir 700 ribu badan usaha yang belum melaporkan data pemilik manfaat, sebagai langkah mendukung transparansi dan keterbukaan data perusahaan.
26 Oktober 2026

Pemerintah Diminta Perluas Insentif Listrik untuk Truk dan Bus Komersial
Moeldoko menyerukan ekstensi insentif fiskal bagi truk dan bus listrik guna percepatan transisi energi dan pengurangan emisi karbon nasional.
26 Oktober 2026

Pentagon Rilis Dokumen Ketujuh soal Fenomena Udara Tak Dikenal
Pentagon AS mempublikasikan seri ketujuh dokumen terkait objek terbang tak dikenal, mencakup laporan lapangan, rekaman, dan catatan historis dari periode 1940-an hingga kini.
26 Oktober 2026
Berita Lainnya

Suporter Muda Tewas Usai Menonton Laga di Pakansari
Senin, 26 Oktober 2026, 17.54 WITA

Penyelidikan Dugaan Penipuan Kripto Timothy Ronald Dihentikan
Senin, 26 Oktober 2026, 17.53 WITA

Kompol Aditia Mulya Tutup Usia Setelah 7 Tahun Koma Akibat Pengeroyokan
Senin, 26 Oktober 2026, 17.53 WITA

Hakim Perintahkan Jaksa Lanjutkan Pembuktian Kasus Don Ritto dan Nurman
Senin, 26 Oktober 2026, 17.53 WITA

Samsat Ciledug Blokir McLaren Usai Salah Tagih Pajak ke Mekanik
Senin, 26 Oktober 2026, 17.52 WITA

Susu dan Jerawat: Fakta Ilmiah di Balik Mitos Minum Susu
Senin, 26 Oktober 2026, 17.51 WITA

Pergeseran Pusat Ekonomi Batavia dari Kota Tua ke Pasar Baru
Senin, 26 Oktober 2026, 17.40 WITA

Honda Culture Indonesia Siap Meriahkan Puncak di GBK
Senin, 26 Oktober 2026, 17.39 WITA

